Sabtu pagi, tanggal 13 Oktober 2012, para wakil dari komunitas dokter Indonesia berkumpul di Hotel Aston Rasuna, Epicentrum, Kuningan atas undangan dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) unt

uk menghadiri dan berperan serta dalam Forum Diskusi Dokter yang bertemakan Menyatukan Suara Dokter dalam Pengendalian Tembakau.

Forum ini dihadiri oleh dr. Zaenal Abidin, MH.Kes selaku Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dan dokter perwakilan dari pengurus IDI wilayah seIndonesia serta dokter perwakilan dari beberapa perhimpunan dokter spesialis di Indonesia. Selain itu, juga turut hadir para pemerhati gerakan anti rokok, misalnya perwakilan dari Koalisi Profesi Kesehatan Anti Rokok atau KPK Anti Rokok yang baru-baru ini terbentuk, perwakilan dari Komunitas Dokter dan Awam Tanyadok.com dan perwakilan dari komunitas Tobacco-Free Kids.

Diskusi dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan dibuka oleh sambutan dari dr. Zaenal Abidin, MH.Kes. Kemudian dilanjutkan oleh pembicara dari Litbangkes, dr. Hj. Yusley Usman, M.Kes yang menyampaikan hasil Global Adults Tobacco Survey (GATS) 2011 di Indonesia. (Untuk liputan selengkapnya mengenai laporan GATS 2011, unduh di: http://www.tanyadok.com/berita/seratus-juta-jiwa-terperangkap-asap-rokok-di-rumah-sendiri). Sesi berikutnya menampilkan wakil dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Bapak Tulus Abadi, SH yang menyatakan keprihatinannya terhadap minimnya perlindungan hak kesehatan masyarakat dalam hal ini khususnya konsumen produk tembakau/rokok dari bahya adiksi dan lainnya di Indonesia. Sesi terakhir menghadirkan pembicara dari kalangan dokter, yaitu dr. Kartono yang adalah mantan ketua IDI. Selanjutnya ada selipan presentasi dari wakil Koalisi Profesi Kesehatan Anti Rokok yang memperkenalkan KPK Anti Rokok yang dibentuk pada tanggal 31 Mei 2012 yang bertekad membebaskan Indonesia dari bahaya rokok pada tahun 2025.  

Selanjutnya acara masuk ke bagian yang terpenting yaitu perumusan deklarasi Gerakan Dokter Selamatkan Indonesia yang adalah penyatuan suara para dokter terhadap gerakan pengendalian tembakau atau secara tidak langsung adalah gerakan perlawanan terhadap rokok. Adapun isi dari deklarasi Gerakan Dokter Selamatkan Indonesia adalah:
  1. Meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa merokok menyebabkan adiksi dan menimbulkan bahaya ksehatan.
  2. Memasukkan status merokok ke dalam rekam medik.
  3. Menyuarakan dan memberi teladan perilaku tanpa rokok di berbagai kesempatan pada seluruh lapisan masyarakat dengan menggunakan berbagai media.
  4. Melakukan penelitian dan publikasi terkait dengan dampak buruk produk tembakau.
  5. Mendesak pemerintah untuk menyediakan bantuan berhenti merokok sebagai bagian terintegrasi dalam pelayanan kesehatan.
  6. Melakukan advokasi di bidang peraturan dan perundangan, baik di tingkat lokal maupun nasional, tentang Pengendalian Tembakau (bahaya rokok)
  7. Mendesak DPR dan Pemerintah untuk segera mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).
  8. Mendesak DPR dan Pemerintah memasukkan nikotin dalam tembakau sebagai zat adiktif ke dalam Undang-Undang Narkotika.
  9. Mendesak Presiden untuk segera menandatangani RPP tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.
Sesi kemudian ditutup dengan konferensi pers di depan undangan media. Konferensi pers dimulai dengan pembacaan pembacaan deklarasi Gerakan Dokter Selamatkan Indonesia oleh dr. Zaenal Abidin, MH.Kes selaku Ketua Terpilih PB IDI yang didampingi oleh rekan dokter pengurus IDI wilayah Jakarta Utara, dr. Tony S. Natakarman, dari Jawa Timur dr. Priyono, dari Sulawesi Selatan dr. Hardarti Razak dan dokter perwakilan Perhimpuan Dokter Paru Indonesia dr. Bachtiar Husain, Sp.P, MH.Kes. serta dokter perwakilan dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat dr.Adhi Nurhidayat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan para wakil media. Demikian liputan Tanyadok.com dalam acara Forum Diksusi Dokter: Menyatukan Suara Dokter dalam Pengendalian Tembakau dan semoga dengan adanya deklarasi ini, para dokter Indonesia lebih aktif lagi dan lebih nyata dalam upaya menentang rokok.