Kapankah Kista Ovarium Disebut Berbahaya?

Kapankah Kista Ovarium Disebut Berbahaya?

Kista dalam peranakan!!! Bila kaum hawa mendengar kata ini, pasti akan cemas apalagi dirinya yang mempunyai kista. Perempuan itu, terutama yang masih muda, belum menikah dan belum mempunyai anak, pasti akan berusaha mencari cara bagaimana agar tubuhnya tidak mempunyai kista lagi. Memang, ada kista di dalam peranakan wanita, terutama di tempat di mana terjadi produksi sel telur (ovum), yaitu di indung telur (ovarium) yang merupakan momok bagi wanita. Mereka takut mereka tidak bisa hamil lagi, tidak bisa punya anak lagi, tidak bisa mendapatkan keturunan lagi, dan tidak bisa-tidak bisa lainnya karena telah terjadi suatu hambatan dalam produksi sel telur mereka. Namun, kista ovarium tidak semuanya ganas, tetapi ada juga yang jinak dan dapat menghilang dengan sendirinya. Jadi, sebenarnya tidak perlu terlalu ditakuti. Apabila, penderita merasa takut, maka akan mengganggu keadaan psikis / mentalnya, yang nantinya dapat menggangu keadaan hormonnya dan menurunkan ketahanan tubuhnya, sehingga memudahkan banyak penyakit lain timbul. Hanya saja, bila mengetahui di dalam ovarium terdapat kista, secara dini dan secepatnya memeriksakan diri ke dokter agar kista tersebut dapat cepat ditangani, sehingga kista tersebut tidak berkembang terlalu jauh hingga menjadi ganas. Akan tetapi, gejalanya sering kali tidak disadari dan baru terdeteksi saat seseorang memeriksakan dirinya atau berkonsultasi kepada dokter. Hal inilah yang membuat kista terlambat diobati.

kista ovariumKista adalah kantong berisi cairan atau setengah cair, udara, cairan kental atau nanah, dapat tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam. Ovarium adalah salah satu organ reproduksi pada wanita yang berfungsi menghasilkan ovum (sel telur). Tempat pematangan sel telur juga terjadi di bagian ovarium. Ovarium juga mensekresikan hormon-hormon penting, seperti estrogen dan progesteron yang berperan dalam pengaturan siklus menstruasi. Wanita mempunyai sepasang ovarium berupa kelenjar berbentuk biji buah kenari yang terletak di kanan dan kiri uterus (rahim). Sepasang ovarium dapat menghasilkan 300.000 sel telur. Dari hasil penelitian, diketahui ada dua hormon yang penting untuk fungsi penuh ovarium yaitu FSH (Follicle-Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone).

Sehingga dapat dikatakan, kista ovarium adalah kantong yang berisi pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur atau ovarium. Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa reproduksinya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa kista ovarium dapat terbentuk kapan saja, antara masa pubertas sampai menopause, bahkan selama kehamilan. Akan tetapi, kista biasanya dapat mengecil atau hilang dengan sendirinya setelah wanita memasuki masa menopause karena menurunnya aktivitas ovarium.

Kista ovarium terbentuk dari berbagai macam sebab. Penyebab inilah yang nantinya akan menentukan tipe dari kista. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus haid / menstruasi, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium.

Kista ovarium biasanya tidak bersifat kanker. Bila kista tersebut masih kecil, biasanya tidak menimbulkan gejala apa-apa. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meyakinkan bahwa itu bukan kanker.

 

Beberapa tipe umum kista ovarium adalah:

1. Kista fungsional. Kista yang terbentuk dari jaringan yang berubah pada saat fungsi normal haid. Kista normal ini akan mengecil dan menghilang dengan sendirinya dalam kurun 2-3 siklus haid. Terdapat 2 macam kista fungsional, yaitu :

Kista folikel. Kista folikel timbul akibat dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi. Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini akan terbuka saat siklus menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus, folikel ini tidak terbuka, sehingga folikel tidak pecah atau melepaskan sel telur dan akhirnya menimbulkan bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista.

Kista folikuler biasanya tidak berbahaya, jarang menimbulkan nyeri dan sering hilang dengan sendirinya antara 2-3 siklus haid. Kista folikel berbentuk kecil sehingga biasanya tidak menimbulkan gejala apa-apa, kecuali jika pecah atau terpelintir, dapat menimbulkan gejala terasa kaku dan sakit hebat di daerah perut bagian bawah seperti serangan appendicitis (radang usus buntu). Kista ini biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat dokter melakukan pemeriksaan USG. Tipe folikuler merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan.

Kista lutein. Akibat perubahan hormon, folikel dapat berubah menjadi korpus luteum dan mengeluarkan sel telur untuk kemudian dibuahi, lalu korpus luteum berdegenerasi (hancur sendiri dan diserap tubuh). Hal ini normal. Tetapi, kadang kala setelah sel telur dilepaskan, lubang keluarnya tertutup dan jaringan-jaringan mengumpul di dalamnya, menyebabkan korpus luteum membesar dan menjadi kista.

Kista ini biasanya hilang dengan sendiri dalam beberapa minggu, tetapi kista ini dapat tumbuh hingga berdiameter 4 inchi (10 cm) dan berpotensi untuk berdarah dengan sendirinya atau mendesak ovarium yang menyebabkan nyeri panggul atau perut. Jika kista ini berisi darah, kista dapat pecah dan menyebabkan perdarahan internal dan nyeri tajam yang tiba-tiba.

Beberapa kista lutein sering terjadi saat kehamilan. Kista ini tidak berbahaya, tidak perlu diangkat apabila tidak mengganggu janin, tetapi membutuhkan pengawasan khusus. Kista ini akan mengecil atau hilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

Ada beberapa tipe kista lutein, diantaranya adalah:

  • Kista granulosa lutein. Kista granulosa lutein terjadi dalam korpus luteum ovarium yang fungsional. Kista ini bisa membesar, akibat dari penimbunan darah yang berlebihan saat fase perdarahan dari siklus menstruasi dan bukan akibat dari tumor. Kista ini timbul pada permulaan kehamilan dan diameternya bisa mencapai 5-6 cm yang menyebabkan rasa tidak enak di daerah panggul. Apabila pecah, terjadi pendarahan pada satu sisi rongga perut. Pada wanita yang tidak hamil, kista ini akan membuat menstruasi terlambat yang diikuti dengan perdarahan yang tidak teratur.
  • Kista theca lutein. Kista theca lutein berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Timbulnya kista theca lutein berkaitan dengan tumor indung telur dan terapi hormon.

2. Kista dermoid. Kista ovarium yang berisi ragam jenis jaringan misal rambut, kuku, kulit, gigi dan lainnya. Kista ini dapat terjadi sejak masih kecil, bahkan mungkin sudah dibawa dalam kandungan ibunya. Kista ini biasanya kering dan tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menjadi besar dan menimbulkan nyeri.

3. Kista endometriosis. Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di ovarium dan berkembang menjadi kista. Kista ini sering disebut juga sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah yang mengental dan membeku, sehingga bewarna coklat-kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan nyeri haid dan nyeri sanggama.
4. Kistadenoma. Kista yang berkembang dari sel-sel pada lapisan luar permukaan ovarium, biasanya bersifat jinak. Kistadenoma dapat tumbuh menjadi besar sehingga berpotensi untuk ganas dan mengganggu organ perut lainnya dan menimbulkan nyeri.
5. Kista polikistik. Di sini, ovarium berisi banyak kista yang terbentuk dari bangunan kista folikel yang menyebabkan ovarium menebal yang disebabkan oleh gangguan hormonal, terutama hormon androgen (hormon yang dipunyai oleh laki-laki dalam jumlah banyak. Pada wanita, normalnya hormon ini dalam jumlah sedikit) yang berlebihan. Kista ini membuat ovarium membesar dan menciptakan lapisan luar tebal yang dapat menghalangi terjadinya ovulasi (pematangan sel telur), sehingga sering menimbulkan masalah infertilitas (ketidakmampuan memiliki anak setelah hubungan seksual dengan teratur walaupun tidak menggunakan alat kontrasepsi dalam jangka waktu paling tidak selama satu tahun). Kista ini menyebabkan menurunnya siklus menstruasi dan terjadi ketidaksuburan.
6. Jenis kista-kista ovarium yang lainnya. Misalnya : kista inklusi germinal, kista Stein-Leventhal, kistoma ovarii simpleks, dan lain-lain.

Kebanyakan wanita yang mempunyai kista ovarium tidak menimbulkan gejala. Gejala biasanya terjadi jika penderita telah mempunyai kista dalam waktu yang lama. Gejala pada stadium awal umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik, yaitu berupa gangguan haid / menstruasi. Jika sudah membesar dan menekan rektum atau kandung kemih, dapat terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama, bahkan dapat terjadi pendarahan. Pada stadium lanjut, gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut) di dalam rongga perut, sehingga perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak nafas.

Beberapa hal yang dapat mendorong terbentuknya kista adalah :

  1. Pola makan. Jika banyak makan makanan berlemak dan kurang serat, maka lemak yang berlebih akan susah dipecah oleh tubuh, sehingga dapat berlanjut dengan gangguan hormon. Demikian juga dengan pola makan yang tidak teratur, mengkonsumsi zat-zat tambahan sintetik pada makanan secara tidak sengaja.
  2. Faktor psikologis, misal stres, depresi. Pola hormon sangat dipengaruhi oleh stres, sehingga menyebabkan jumlah hormon tidak terkendali / terganggu. Hal ini berdampak pada perkembangan kista yang tergantung pada hormonal, seperti endometriosis dan kista polikistik.
  3. Faktor genetik. Ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar kecenderungannya untuk menderita kanker. Ada pula orang yang secara genetik lebih kecil kemungkinannya. Sebab itu, jika dalam riwayat kesehatan keluarga ada beberapa orang yang diketahui menderita kanker, Anda harus lebih waspada dengan cara menghindari faktor-faktor yang dapat memicu kanker.
  4. Gaya hidup tidak sehat, misalnya kurang olahraga, merokok. Faktor lingkungan seperti penggunaan talk, konsumsi galaktose dan sterilisasi ternyata tidak mempunyai dampak terhadap perkembangan penyakit ini.

Adanya kista di dalam ovarium belum tentu dapat membuat susah hamil. Hal ini tergantung dari jenisnya kista dan apakah ovariumnya terkena dua-duanya atau tidak. Jika hanya satu ovarium yang terkena kista dan satu lagi tidak, maka selalu ada kemungkinan untuk bisa hamil. Adanya kista di dalam ovarium pun tidak selalu mengganggu kehamilan, hal ini tergantung jenis dan besarnya kista.

Kapan kista dalam ovarium disebut jinak dan kapan pula kista dalam ovarium disebut ganas yang berarti bahaya?

Menurut dr. Pribakti, Sp.OG (K) dari RS yang ada di Banjarmasin, kista ovarium sering dijumpai pada wanita usia reproduksi dan 95% jinak. Sebagian dari kista itu menetap atau bahkan menghilang tanpa pengobatan atau operasi. Lalu dr. Hardi Susanto, spesialis kandungan dan kebidanan dari RS di Jakarta, mengatakan 20-30% kista berpotensi menjadi ganas. Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada wanita di atas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas, sehingga dianjurkan pada wanita yang berusia di atas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Salah satu tanda bahwa kista ovarium menjadi ganas adalah adanya pembesaran kista yang cepat dalam waktu yang singkat. Angka kematian akibat penyakit kanker ovarium cukup tinggi karena penyakit ini awalnya tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan. Pada stadium lanjut baru penderita merasakan gejalanya. Penyakit ini juga disebut sebagai silent killer. Sayangnya, sampai sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa adanya keganasan kanker ovarium. Berbeda dengan kanker serviks (mulut rahim) yang bisa dideteksi dini dengan papsmear.

Pemeriksaan kista ovarium dilakukan berdasarkan gejala dan tanda-tandanya. Pemeriksaan fisik dan beberapa jenis pemeriksaan laboratorium dapat membantu diagnosis dari beberapa tipe kista. Untuk mengkonfirmasi tipe kista ovarium, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa jenis pemeriksaan laboratorium, lalu melihat ovarium melalui USG, pemeriksaan patologi anatomi (PA), MRI, CT-Scan, laparoskopi atau melalui operasi. Apabila telah masuk pada stadium ganas, maka diperlukan pemeriksaan tumor marker.

Terdapat beberapa cara untuk menentukan apakah kista pada ovarium bersifat jinak atau ganas, yaitu :

* Berdasarkan pemeriksaan fisik

Jinak bila:

  • Pergerakkan Mudah digerakkan (mobile)
  • Konsistensi / Isi Kistik
  • Terdapat hanya di 1 sisi atau 2 sisi tubuh
  • Permukaan Halus dan tidak berdungkul (smooth)

Ganas bila:

  • Pergerakkan  Sulit digerakkan (fixed / menetap)
  • Konsistensi / Isi Padat (solid)
  • Terdapat di  1 sisi tubuh 2 sisi tubuh
  • Permukaan Berdungkul-dungkul

* Berdasarkan hasil radiografi

Jinak bila:

  • Kista sederhana dengan ukuran kurang dari 10 cm
  • Tebal sekat kurang dari 3 mm
  • 1 sisi
  • Tidak membentuk massa di perut

Ganas bila:

  • Tumor solid (padat) atau campuran
  • Banyak sekat dan tebal sekat (dinding) lebih dari 3 mm
  • 2 sisi
  • Membentuk massa di perut (asites)

* Berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi (PA) sel-selnya

Jinak

  • Tidak ada perlekatan sehingga mudah digerakkan (mobile)
  • Kapsul (pembungkus) kista utuh

Ganas bila:

  • Ada perlekatan sehingga sulit digerakkan (fixed)
  • Kapsul (pembungkus) kista tidak utuh / pecah / rupture

Bagaimana dengan pengobatannya?

Pengobatan tergantung pada tipe dan ukuran kista serta usia penderita.

Untuk kista folikel, kista ini tidak perlu diobati karena akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-3 bulan. Tetapi tetap harus dikonsultasikan pada dokter.

Untuk kista lutein golongan granulosa lutein, yang sering terjadi pada wanita hamil, akan sembuh secara perlahan-lahan pada masa kehamilan semester ketiga, sehingga jarang dilakukan operasi. Sedangkan untuk golongan teka lutein, maka akan menghilang secara spontan jika faktor penyebabnya telah dihilangkan.

Untuk Kista polisistik indung telur yang menetap / persisten, operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit.

Untuk kista fungsional, dapat digunakan pil kontrasepsi yang digunakan untuk mengecilkan ukuran kista. Pemakaian pil kontrasepsi juga mengurangi peluang pertumbuhan kista.

Bagi wanita yang menjalani operasi kista ovarium, sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual dalam masa penyembuhan.

Akan tetapi, jika kista cepat membesar, tidak menghilang setelah dilakukan beberapa terapi, terasa nyeri, dan diderita oleh wanita yang sudah masuk menopause, maka dokter akan melakukan pembedahan yang dapat sampai mengangkat seluruh peranakan (histerectomy).

Dengan melihat keadaan di atas, sebagai wanita seharusnya dapat mencegah agar dirinya tidak mempunyai kista dalam peranakannya, namun sayangnya tidak ada upaya pencegahan khusus yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit ini. Upaya yang dapat dilakukan adalah mengetahui secara dini penyakit ini, sehingga penderita tidak memasuki stadium yang terlalu berbahaya dan pengobatan yang diberikan masih memberikan hasil yang baik dengan komplikasi yang minimal. Upaya tersebut adalah dengan melakukan pemeriksaan secara berkala yang meliputi :

  1. Pemeriksaan klinis ginekologik untuk mendeteksi adanya kista atau pembesaran ovarium lainnya.
  2. Pemeriksaan USG, bila perlu dengan alat Doppler untuk mendeteksi aliran darah.
  3. Pemeriksaan petanda tumor (tumor marker)
  4. Pemeriksaan CT-Scan / MRI bila dianggap perlu

Pemeriksaan diatas sangat dianjurkan terutama terhadap wanita yang mempunyai resiko akan terjadi kanker ovarium, yaitu :

  1. Wanita yang haid pertama lebih awal dan menopause lebih lambat
  2. Wanita yang tidak pernah atau sulit hamil
  3. Wanita dengan riwayat keluarga menderita kanker ovarium
  4. Wanita penderita kanker payudara dan kolon

Jadi, bagi para wanita, bila terdapat gangguan-gangguan yang berhubungan dengan organ-organ reproduksi Anda, seperti siklus menstruasi yang tidak teratur dan lainnya, segera perisakan diri Anda kepada dokter dan jagalah tubuh Anda, terutama peranakan Anda agar Anda tidak mengalami momok yang hampir semua wanita sangat menakutinya dengan melakukan pemeriksaan secara rutin ginekologi kepada dokter Anda.

Sumber :

http://fordearest.wetpaint.com

http://irwanashari.blogspot.com

http://konsultasikesehatan.epajak.org

http://racik.wordpress.com

http://www.blogdokter.net

http://www.dharmais.co.id

http://www.indomedia.com

Prawirohardjo, Sarwono. 1989. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo d/a Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Widjanarko, Bambang. 2006. Ilmu Ginekologi Dasar. Jakarta : Bagian Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya.

Artikel Terkait


Kista payudara

Tommy Supit, dr.

Makanan pencegah kista

ida.juita

Bahaya penyakit kista?

Dewata Aprilia Marilyn, dr.

Kista, Berbahayakah?

Aldo Fransiskus Marsetio, dr., BMedSc