Kedokteran Forensik: Berjuang demi Kebenaran

  Tanya dokter gratis video chat call. Artikel kesehatan dan penyakit. Cari rumah sakit, wanita ibu hamil dokter kandungan anak klinik kehamilan. Cara diet sehat, fitness, langsing, cantik    

Apa yang Anda rasakan bila mendengar kata forensik? Tak jarang yang spontan merasa jijik dan mual membayangkan kata ‘forensik’ tersebut. Banyak kalangan yang beranggapan bahwa forensik itu tidak lebih dari sekedar belek-belek mayat dan serangkaian kegiatan menjijikkan dan memualkan lainnya. Memang, image ‘forensik’ yang telanjur melekat di masyarakat dari dulu sampai dengan sekarang masih seperti itu. Kurangnya pendekatan para pelaku dunia forensik, khususnya kedokteran forensik, secara tidak langsung memberikan kontribusi besar terhadap timbulnya image tersebut. Melalui tulisan ini, penulis mencoba untuk memaparkan sedikit-banyak dunia kedokteran forensik berdasarkan pengalaman dan keahlian penulis. Ayo, kita masuki dunia yang serupa di serial film CSI (Crime Scene Investigation).

Apa itu Kedokteran Forensik?

Ilmu kedokteran forensik – dikenal juga sebagai Legal Medicine/Forensic Medicine – merupakan salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan (peradilan dan non-peradilan).Dari definisi tersebut jelas bahwa seorang dokter spesialis forensik merupakan seorang dokter spesialis yang telah melewati masa pendidikan formal khusus setelah meraih gelar dokter umum dan memiliki gelar Sp.F. Tujuan daripada spesialisasi ini  adalah untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan langkah-langkah ilmiah. Dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari, umumnya para dokter spesialis forensik dibantu oleh para teknisi yang juga telah melalui pendidikan khusus mengenai teknik-teknik pemeriksaan forensik, baik itu pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jenazah.

Apa yang dikerjakan oleh dokter forensik?

Tak dapat dipungkiri bahwa porsi terbesar dari pekerjaan seorang dokter spesialis forensik adalahpemeriksaan patologi forensik atau pemeriksaan jenazah. Pemeriksaan jenazah dilakukan atas dasar permintaan tertulis dari pihak yang berwenang, yaitu penyidik dari kepolisian maupun instansi lain yang berwenang. Output dari hasil pemeriksaan jenazah tersebut berupa visum et repertum.

Perlu diketahui bahwa ada 2 jenis pemeriksaan yang dimintakan oleh pihak penyidik tersebut, yaitu berupa pemeriksaan luar jenazah (visum luar) maupun pemeriksaan dalam jenazah (visum dalam atau autopsi). Jenis pemeriksaan tersebut tergantung pada kepentingan kasus yang ditangani oleh penyidik. Namun demikian, sebab kematian (cause of death, COD) hanya dapat dipastikan apabila jenazah telah melalui pemeriksaan dalam (autopsi). Pemeriksaan luar saja tidak cukup untuk menjelaskan sebab kematian secara pasti.

Dalam hal mencari sebab kematian tersebut, pihak penyidik berwenang untuk meminta dilakukannya pemeriksaan dalam jenazah, walaupun pihak keluarga korban berkeberatan terhadap dilakukannya pemeriksaan dalam tersebut. Penyidik dilindungi oleh undang-undang. Pihak keluarga yang menghalang-halangi pemeriksaan yang sudah diputuskan oleh pihak penyidik dapat dikenai hukuman pidana penjara selama 9 bulan.

Apa itu autopsi dok?

Pemeriksaan dalam jenazah merupakan suatu rangkaian pemeriksaan di mana terhadap seorang korban dilakukan insisi atau pemotongan mulai dari bawah dagu sampai dengan daerah perut bagian bawah serta pembukaan rongga kepala untuk dilakukan pemeriksaan terhadap organ-organ tubuh secara lengkap. Bilamana dianggap perlu, sebagian organ tubuh maupun cairan tubuh korban diambil untuk pemeriksaan lainnya, yaitu pemeriksaan jaringan, toksikologi (zat beracun), mikrobiologi (kuman-kuman), dan lainnya.

Setelah selesai pemeriksaan, seluruh organ tubuh korban tersebut dikembalikan ke tempatnya masing-masing lalu dilakukan penjahitan kembali tubuh korban serapi mungkin. Kesimpulan visum et repertum korban akan diterbitkan setelah seluruh pemeriksaan selesai dilakukan sehingga dokter pemeriksa mendapatkan data yang cukup lengkap untuk menyimpulkan penyebab kematiannya.

Seiring dengan perkembangan zaman, pemeriksaan dalam jenazah tersebut bukan saja dimintakan oleh pihak penyidik kepolisian, namun juga bisa diminta oleh keluarga seorang pasien yang meninggal di rumah sakit dengan penyebab yang masih meragukan. Pemeriksaan dalam jenazah yang seperti ini disebut dengan autopsi klinis.

Forensik adalah dunia yang menarik!

Dunia kedokteran forensik sebenarnya sangatlah menarik, kita diajak untuk merangkai puzzle dari beberapa data yang kita dapat, baik dari wawancara terhadap korban, pemeriksaan korban (baik hidup atau mati), serta pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lainnya.

Yang tak kalah pentingnya juga adalah data atau keterangan dari pihak penyidik mengenai situasi tempat kejadian perkara (TKP). Dari seluruh data yang kita peroleh tersebut, maka seorang dokter spesialis forensik dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan tersebut dengan baik. Faktor pengalaman dokter pemeriksa berpengaruh dalam penyusunan maupun pembahasaan kesimpulan suatu visum et repertum.

Kedokteran forensik tidak melulu jenazah

Tugas seorang dokter spesialis forensik tidak melulu mengurusi jenazah, namun juga korban hidup. Korban penganiayaan, pemerkosaan, ragu ayah/ibu/anak, ragu umur dan jenis kelamin, serta banyak kasus lainnya yang berhubungan dengan hukum seyogyanya dapat dimintakan bantuan kepada seorang dokter spesialis forensik.

Pemeriksaan terhadap korban hidup meliputi pemeriksaan luka-luka, baik akibat penganiayaan maupun akibat kekerasan seksual. Dalam hal menangani seorang korban hidup akibat suatu tindak pidana, seorang dokter memiliki peran ganda. Di satu sisi, ia akan berperan sebagai dokter forensik, di sisi lain ia akan berperan sebagai dokter klinis yang bertanggung jawab mengobati korban sebagai pasien.

Oleh sebab itu, seorang dokter spesialis forensik sebaiknya jelas memposisikan dirinya sebagai dokter yang mencari bukti-bukti telah terjadinya tindak kekerasan pada korban hidup tersebut, tanpa harus menghadapi suasana dilematis untuk perawatan korban.

Prinsip pemeriksaan forensik adalah mendapatkan bukti secepat mungkin, oleh karena tubuh manusia merupakan suatu barang bukti biologis yang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Oleh sebab itu, dokter spesialis forensik berwenang untuk melakukan konsultasi kepada bidang keahlian lainnya dalam menangani suatu kasus, sehingga data-data tersebut dapat disatukan untuk menentukan derajat perlukaan seorang korban tindak pidana tersebut.

Dalam hal kasus-kasus ragu ayah/ibu/anak, pemeriksaan DNA forensik dapat dilakukan. Istilah “DNA” sendiri mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa pemeriksaan DNA forensik tidaklah sama dengan melakukan pemeriksaan DNA di bidang lain, karena pemeriksaan DNA forensik akan mengkhususkan kepada bagian-bagian tertentu sesuai dengan standar internasional. Harus diakui bahwa pemeriksaan DNA forensik di Indonesia masih cukup mahal saat ini.

Masih banyak bidang forensik lainnya

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang dokter spesialis forensik, tinggal bidang mana yang ingin diperdalam lagi olehnya. Dalam dunia kedokteran forensik ada bidang yang disebut dengan patologi forensik, forensik klinik, toksikologi forensik (berkaitan dengan zat beracun), serologi forensik (berkaitan dengan darah dan golongan darah), entomologi forensik (berkaitan dengan serangga), psikiatri forensik (berkaitan dengan kejiwaan), DNA forensik, dan lainnya.

Khusus untuk psikiatri forensik merupakan bidang tersendiri di mana ahlinya disebut dengan psikiater forensik. Psikiater sendiri kita ketahui bersama merupakan ahli kedokteran jiwa yang bergelar Sp.KJ, sehingga khusus untuk psikiatri forensik – meskipun sama-sama dasarnya adalah dunia kedokteran – tidak termasuk dalam kurikulum dokter spesialis forensik. Keseluruhan bidang tersebut – selain psikiatri forensik – semestinya dikuasai oleh seorang dokter spesialis forensik di negeri ini.

Hal ini sedikit berbeda dengan dokter spesialis forensik di luar negeri, di mana seseorang dikatakan sebagai dokter ahli forensik berarti harus menguasai patologi forensik secara mantap. Bidang lain selain patologi forensik bukanlah merupakan kompetensi seorang dokter spesialis forensik di luar negeri. Namun demikian, keterbatasan sebagai manusia membuat seorang dokter spesialis forensik tidak bisa menguasai keseluruhan ilmu-ilmu tersebut. Di sinilah muncul peluang adanya sub-sub spesialis yang lebih mendalami bidang-bidang tersebut, sehingga muncullah konsultan-konsultan untuk suatu bidang tertentu.

Pengawetan jenazah dan barang bukti

Secara keseluruhan, pekerjaan sehari-hari seorang dokter spesialis forensik adalah menangani konsultasi medikolegal (menangani kasus sengekta antara hukum dan dunia medis), melakukan pemeriksaan korban tindak pidana (hidup maupun mati) – termasuk identifikasi jenazah -, melakukan pemeriksaan laboratorium forensik terhadap sampel-sampel yang didapat dari korban, melakukan konsultasi dan pemeriksaan paternitas pada kasus-kasus ragu ayah/ibu/anak, serta pengawetan jenazah.

Pengawetan jenazah merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran seorang dokter spesialis forensik. Akan tetapi, tidak banyak dokter spesialis forensik yang mau menjalankan praktik pengawetan jenazah ini. Banyak yang beralasan bahwa pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan seorang mantri/perawat RS, tidak pantas dikerjakan oleh seorang dokter, apalagi seorang dokter spesialis. Padahal, dalam hal pengawetan jenazah, penentuan seorang jenazah tersebut mati wajar/tidak wajar sangatlah penting.

Kita tentu ingat kasus Cliff Muntu, seorang praja IPDN yang meninggal akibat diduga dipukuli oleh seniornya. Setelah diselidiki, akhirnya diputuskan bahwa Direktur IPDN bersalah telah menyuruh seorang mantri untuk melakukan pengawetan jenazah terhadap korban dengan maksud untuk menghilangkan barang bukti. Mantri yang melakukan pengawetan jenazah dituntut dengan delik melakukan tindakan yang bukan merupakan kewenangan dan keahliannya.

Dokter forensik masih perlu ditambah

Dari semua uraian di atas, penulis mengharapkan bahwa para pembaca – baik dari kalangan medis maupun awam – dapat memahami seluk-beluk pekerjaan seorang dokter spesialis forensik. Hal ini sekaligus membuka wawasan dan pengetahuan para pembaca sekalian untuk lebih ‘membuka diri’ terhadap dunia forensik, khususnya kedokteran forensik. Indonesia masih membutuhkan banyak dokter spesialis forensik, karena masih banyak daerah yang belum terlayani dan mendapatkan pelayanan forensik secara memadai.

Sampai dengan saat ini, jumlah dokter spesialis forensik di Indonesia masih kurang dari 200 orang. Kebutuhan akan dokter spesialis forensik masih amat besar, hal inilah yang mestinya menjadi peluang bagi dokter-dokter untuk terus berkarya bagi kemanusiaan. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi inspirasi bagi pembaca sekalian untuk dapat memajukan dunia forensik di Indonesia.

Sumber:

  1. Budijanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Idries AM, Hertian S, et al. Ilmu kedokteran forensik, cetakan kedua. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
  2. Tjondroputranto H. Pokok-pokok ilmu kedokteran forensik, cetakan ketiga (diperbaiki). Jakarta: Medicina Forensis; 1988.
  3. Dahlan S. Ilmu kedokteran forensik: Pedoman bagi dokter dan penegak hukum, cetakan keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2005.
  4. Gordon I, Shapiro HA, Berson SD. Forensic medicine: A guide to principles, 3rd Edition. UK: The Bath Press, Churchill Livingstone; 1988.

Related Posts

Ketika Dokter Dinyatakan Malpraktik

Ketika Dokter Dinyatakan Malpraktik

Transportasi Korban dan Pertolongan Pertama Bencana

Transportasi Korban dan Pertolongan Pertama Bencana

Aspek Hukum Pada HIV/AIDS dan ODHA

Aspek Hukum Pada HIV/AIDS dan ODHA

Identifikasi Forensik: Menyusun Puzzle dari Serangkaian Data

Informed Consent: Cermin Otonomi Pasien

Informed Consent: Cermin Otonomi Pasien

Related Posts

Tes DNA

Dok, saya penasaran dengan tes DNA. Saya ingin tan...

Ingin Tes DNA Anak

Salam Hormat Dok saya mau tanya, golongan darah sa...

Dok, bisakah DNA pada Marfan Syndrome diperbaiki?

Selamat pagi dok, Saya mau tanya apakah pada marva...