Hidup Dengan Asma
Asma adalah penyebab utama kesakitan kronis dan kematian pada 300 juta anak-anak dan dewasa di seluruh dunia dalam 20 tahun terakhir. Penanggulanan asma membutuhkan kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala asma, akses pengobatan asma yang terjangkau dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, sehingga menjadi asma yang terkontrol.
Asma dikenal dengan istilah “bengek†di Indonesia karena karakteristik serangan asma yang menyebabkan penyempitan jalan napas dan menimbulkan bunyi mengi. Tetapi apa sebetulnya penyakit asma itu?
Asma adalah gangguan peradangan kronis pada jalan napas. Jalan napas penderita asma sangat responsif dan menimbulkan efek penyempitan jalan napas dan timbulnya lendir jalan napas yang berlebihan saat terpapar berbagai faktor pemicu.
Efek penyempitan jalan napas dan lendir berlebih pada jalan napas, menyebabkan pasien merasa sesak, batuk-batuk (terutama pada malam hari atau pagi hari), dan bunyi mengi.
Perlu diingat bahwa penyakit asma adalah peradangan kronis, berarti akan selalu ada sepanjang hidupnya. Dimana peradangan tersebut, jika bertemu factor pemicu akan menyebabkan serangan asma.
Beberapa faktor risiko penyebab (factor pemicu) gejala asma adalah pemaparan terhadap allergen (zat yang menyebabkan alergi), seperi debu, kutu, hewan-hewan berbulu, kecoak,serbuk bunga, dan jamur), zat irritant yang ditemukan dalam lingkungan kerja, asap rokok, infeksi saluran pernapasan atas (terutama yang disebabkan oleh virus), olahraga, ekspresi emosi yang berlebihan (tertawa dan menangis), zat kimia yang iritan dan obat-obatan (seperti aspirin dan penghambat beta).
Tujuan pengobatan asma adalah asma yang terkontrol. Nah, timbul pertanyaan berikutnya, kapan asma disebut terkontrol? Yaitu saat pasien :
- Jarang (2 kali per minggu) sampai dengan tidak mengalami gejala asma yang berat.
- Menggunakan obat-obatan seminimal mungkin.
- Memiliki hidup aktif dan produktif.
- Memiliki fungsi paru (mendekati) normal.
- Terhindar dari serangan asma berat.
Langkah-langkah menuju asma yang terkontrol adalah :
- Pengenalan gejala asma dan penegakkan diagnosis asma pada pasien.
- Identifikasi faktor pemicu, dan intervensi terhadap factor pemicu, misal: menghindari debu, menghindari zat iritan, teknik membersihkan lingkungan rumah yang sesuai, pindah kerja, dst.
- Pengobatan pada serangan dengan reliever (pelega jalan napas) dan pencegahan serangan asma dengan controller.
- Kerjasama yang baik antara pasien, dokter, keluarga, lingkungan kerja dan pihak-pihak terkait untuk membuat asma menjadi terkontrol.
Penting untuk diingat bahwa faktor yang utama bukan obat-obatan. Dengan pengenalan faktor pemicu dan intervensi terhadap factor pemicu, maka serangan asma dapat dicegah dan asma menjadi terkontrol. Berkonsultasilah dengan dokter anda untuk dapat hidup dengan asma. Anda pasti bisa!









Komentar di TanyaDok.com