Diabetes Mellitus ada Hubungannya Juga dengan Gigi dan Mulut, lho..! Tanya dokter, gratis konsultasi. Cari rumah sakit dokter klinik. Artikel kesehatan anak ibu hamil wanita cantik penyakit jantung diet sehat langsing fitness

Diabetes Mellitus ada Hubungannya Juga dengan Gigi dan Mulut, lho..!

  Tanya dokter gratis video chat call. Artikel kesehatan dan penyakit. Cari rumah sakit, wanita ibu hamil dokter kandungan anak klinik kehamilan. Cara diet sehat, fitness, langsing, cantik    

Setiap tahun, penderita Diabetes Mellitus (DM) meningkat di Indonesia. Jumlah penderita DM di Indonesia (USU) pada tahun 2000 adalah 8,4 juta penderita. Diperkirakan, jumlah penderita mencapai 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Penyakit ini termasuk penyakit sistemik yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan penderita, termasuk kesehatan gigi dan mulut.

Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan abnormal dimana produksi insulin dalam tubuh tidak mencukupi untuk mengubah glukosa (yang dihasilkan dari karbohidrat) tidak dapat diubah menjadi glikogen. Glukosa tidak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh. Yang berperan untuk metabolisme dan cadangan energi bagi sel adalah glikogen yang mengalir dalam pembuluh darah.

Pada pasien DM, sel yang kekurangan glikogen sebagai sumber makanannya, menggunakan lemak dan protein untuk terus bertahan hidup. Akibatnya, badan sel membesar, karena lemak dan protein diperoleh dari bagian luar sel. Namun demikian, bagian dalam sel yang terdiri dari pembuluh darah dan saraf justru mengecil (mikroangiopati dan neuropati). Tidak terkecuali sel-sel dalam rongga mulut.

MULUT KERING (XEROSTOMIA) DAN SINDROMA MULUT TERBAKAR (BURNING MOUTH SYNDROME / BMS)

Xerostomia dan BMS pada pasien DM diakibatkan karena berkurangnya produksi air liur. Keadaan ini biasanya diikuti dengan gejala rasa haus,lidah terasa kering, keluhan perih, panas seperti terbakar, dan perubahan pengecapan rasa. Keadaan ini dapat diatasi dengan memperbangak konsumsi air dan atau minuman yang tidak mengandung gula, serta penggunaan obat kumur yang mengandung flouride untuk mengurangi rasa tidak nyaman.

INFEKSI JAMUR (CANDIDIASIS) DAN GIGI RENTAN BERLUBANG (KARIES)

Dampak lebih lanjut dari berkurangnya produksi air liur adalah meningkatnya bakteri dan jamur. Bakteri dan jamur adalah flora normal yang hidup dalam rongga mulut dan bersinergi dengan air liur untuk mempertahankan keseimbangannya. Namun apabila jumlah jamur lebih dari normal, akan terjadi infeksi jamur yang disebut candidiasis. Candidiasis dapat berupa perih dan luka pada kedua sudut mulut (cheilitis angularis), kemerahan pada langit-langit mulut pada pengguna gigi palsu (denture sore mouth), atau bercak merah dan sakit yang sulit dihilangkan pada lidah. Sedangkan jumlah bakteri yang berlebihan, terutama Streptococcus aureus, menyebabkan gigi lebih mudah berlubang.

RASA SAKIT PADA GIGI, TANPA ADANYA GIGI YANG BERLUBANG (ODONTALGIA)

Pada penderita DM, terjadi pengecilan saraf yang berfungsi untuk menerima dan menghantarkan rangsangan. Akibatnya, dapat terjadi odontalgia berupa rasa sakit yang berdenyut pada gigi, padahal tidak ada gigi yang berlubang dalam rongga mulut pasien.

BAU MULUT SEPERTI BAU ASETON

Bau aseton menunjukkan adanya ketoasidosis atau keracunan keton, biasa terjadi bila pada pemeriksaan ditemukan “trias biokimia”, yaitu : hiperglikemia (KGD > 200 mg/dL), asidosis (pH darah < 7,3), dan kadar bikarbonat < 15 mmol/L. Hal ini disebabkan karena penggunaan lemak yang berebihan tersebut menghasilkan asam lemak dan benda keton. Ketoasidosis dapat dideteksi dari bau aseton pada mulut, urin (ketonuria), dan darah (ketonaemia). Ketoasidosis dapat menyebabkan meningkatnya laju pernafasan (hiperventilasi) yang berbahaya bagi tubuh.

GANGGUAN PENYEMBUHAN LUKA

Kemampuan penyembuhan luka pasien DM tidak sebaik pada pasien normal. Hal ini disebabkan karena pembuluh darah yang mengecil, sehingga mengurangi aliran darah ke daerah luka. Akibat aliran darah yang berkurang, sel-sel esensial dalam darah juga jumlahnya berkurang. Leukosit yang berperan untuk mencegah infeksi, maupun hemaglobin untuk membantu pembekuan darah berkurang. Oleh sebab itu, perlu perhatian khusus terhadap penderita DM yang ingin mendapatkan perawatan gigi dan mulut yang menyebabkan pendarahan, seperti pencabutan (tooth extraction) dan pembersihan karang gigi (scalling).

Yang perlu diperhatikan pada pencabutan gigi pasien DM, antara lain :

  1. Melakukan pemeriksaan gula darah (pada setiap pasien, tidak hanya pasien DM). Gula darah harus dalam batas normal : gula darah puasa 70-110 mg/dL dan gula darah sewaktu 100-140 mg/dL. Apabila didapatkan angka diluar batas normal, pencabutan harus ditunda, pasien dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam (internist) untuk mengkontrol kadar gula darah sebelum pencabutan dilakukan.
  2. Pasien tidak dalam keadaan stress / tegang / takut, karena stress dapat mengakibatkan KGD meningkat.
  3. Penggunaan bahan anestesi noradrenalin, bukan adrenalin. Karena adrenalin menyebabkan vasokonstriktor yang dapat memperkecil pembuluh darah. Pada pasien DM, pembuluh darah akan menjadi semakin kecil (mikroangiopati) menghambat aliran darah ke daerah luka. Padahal sirkulasi darah yang baik dibutuhkan untuk menghantarkan Hemoglobin (Hb) pada sel darah merah, yang akan membantu pembekuan darah.
  4. Trauma pencabutan seminimal mungkin. Pada pasien DM disarankan hanya mencabut satu gigi pada suatu kunjungan dan menjahit luka untuk mempercepat penyembuhan. Selain itu, pasien DM mudah mengalami infeksi karena jumlah leukosit yang berkurang seiring dengan mengecilnya pembuluh darah (mikroangiopati). Padahal, leukosit berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh alami terhadap infeksi.

PENYAKIT GUSI DAN KERUSAKAN TULANG RAHANG

Keadaan gusi pasein DM umumnya pucat dan mudah berdarah. Hal ini diperparah dengan pendarahan yang sukar berhenti karena pembuluh darah yang mengecil dan menurunkan kemampuan pembekuan darah. Pada tulang rahang, terutama setelah pencabutan, tulang lebih mudah mengecil karena aliran darah yang berkurang menyebabkan tulang kekurangan makanan untuk mempertahankan integritasnya. Akibatnya, pasien DM pengguna gigi palsu akan merasa gigi palsunya mudah longgar. Apabila pasien merasa gigi palsu yang digunakkannya longgar, hendaknya segera ke dokter gigi untuk melakukan perbaikan, sehingga kerusakan lebih lanjut tidak terjadi.

Oleh sebab itu, penderita DM dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan gigi dan mulut, menggunakan obat kumur secukupnya, serta melakukan kontrol rutin ke dokter gigi sehingga dapat mencegah pendarahan dan kerusakan gusi maupun tulang yang lebih parah.

Sumber :

  1. Scully, C. 2010. Medical Problems in Dentistry. Ed. Ke-6. United Kingdom: Elsevier. Hlm. 138-45.
  2. Jones, I. dan Harold, J. 1990. Oral Manifestation of Systemic Disease. Ed. Ke-2. Philadelphia: W.B.Saunders. Hlm. 608-12.
  3. Wray, D. Dan Lowe, G.D.O. 1999. Textbook of General and Oral Medicine. Ed. Ke-1. Edinburgh: Churchill Livingstone. Hlm. 268-9.

Related Posts

Diet Penderita Diabetes Tak Harus “Menderita”

Diet Penderita Diabetes Tak Harus “Menderita”

Komplikasi Diabetes Melitus

Komplikasi Diabetes Melitus

Diabetes dan Penyakit Jantung

Diabetes dan Penyakit Jantung

Merokok dan Diabetes

Merokok dan Diabetes

Cegah Diabetes Mulai Hari Ini!

Cegah Diabetes Mulai Hari Ini!

Related Posts

Chelitis

Halo Dok, saya ingin tanya, di kedua sudut bibir s...

Haus terus pada penderita DM?

dok, kalau orang kena diabetes itu bawaanya haus t...

Kenapa bawaan haus terus pada penderita Diabetes ?

Siang dok, dok kalau orang kena diabetes itu bawaa...

Menu untuk penderita diabetes

Dok… apakah ada saran khusus mengenai menu u...

Suntik insulin setiap hari?

saya penderita diabetes diketahui 6 bulan yang lal...