Anjing Gila? Siapa Takut!

Apa itu Rabies?

Rabies adalah penyakit virus yang disebarkan melalui air liur dari hewan yang terinfeksi kepada hewan lainnya atau pada manusia. Hewan-hewan peliharaan yang dekat dengan manusia mungkin sangat berpotensi untuk menyebarkan virus ini termasuk kelinci, kucing serta anjing. Sedangkan hewan liar di alam yang berpotensi adalah rakun, kelelawar, serigala, dan sebagainya

Satu-satunya cara penularan yang paling sering terhadap manusia adalah melalui air liur baik melalui gigitan atau melalui luka terbuka yang terkontaminasi air liur hewan yang telah terinfeksi. Sedangkan darah, urin, kotoran hewan jarang digunakan virus ini untuk menginfeksi manusia.

Memang selain cara-cara tadi pernah dijumpai penyebaran melalui udara dan transplantasi orang dari donor penderita penyakit susunan saraf yang tidak terdiagnosa, namun hal itu jarang sekali terjadi. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, sekitar 35000 sampai 40000 orang meninggal setiap tahun dan hampir semuanya terjadi negara berkembang termasuk Indonesia.

Daerah-daerah yang saat ini hewan-hewannya telah terbebas dari virus rabies adalah Australia, New Zealand, Papua Nugini, Jepang, Hawaii, Taiwan, Oceania, Inggris, Irlandia, Iceland, Norwegia, Swedia, Finlandia, Portugal, Yunani, India bagian Barat dan Kepulauan Atlantik

Gejala yang ditimbulkan
Virus Rabies menyebabkan suatu peradangan otak dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis) atau biasa disebut encephalomyelitis. Serangan biasanya muncul dengan perasaan ketakutan, sakit kepala, demam, lemas, perubahan sensasi rasa pada daerah sekitar gigitan. Kemudian berlanjut pada kelumpuhan otot, kejang otot-otot menelan, kesadaran menurun (delirium), kegelisaha, jumlah air liur yang meningkat, muntah serta kejang.

Kejang otot menelan ini lah yang membuat pasien takut terhadap air (hidrofobia). Dan jika tidak ditangani dengan baik akan terjadi kematian pada pasien dalam waktu 2 sampai enam hari akibat kejang otot-otot pernafasan.

Lamanya waktu antara saat terkena sampai timbulnya penyakit (masa inkubasi) biasanya berlangsung antara 3 sampai 8 minggu. Hal ini sangat tergantung dari keparahan luka, lokasi luka yang berhubungan dengan kepadatan saraf pada lokasi luka dan jarak luka dari susunan saraf pusat (otak dan sumsum tulang berlakang), serta jumlah dan jenis virus yang masuk. Masa inkubasi yang lama biasanya ditemukan pada usia sebelum akil balik.

Vaksin Rabies Pencegahan

Banyak hal dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini salah satunya dengan menggunakan vaksin rabies. Vaksin ini berguna sebagai pencegahan serta sebagai tindakan penanggulangan setelah terkena virus rabies. Walaupun vaksin ini tidak dapat mencegah 100% penyakit ini, namun vaksin ini akan mempermudah prosudur jika terkena virus rabies pada masa mendatang.

Jika orang sudah divaksin terkena virus rabies, maka jumlah antibody (HRIG/ human rabies immune globulin) serta jumlah vaksin yang diberikan pada saat terkena virus rabies akan berkurang. Di samping itu, vaksin ini akan menunda gejala-gejala berat yang timbul akibat masuknya virus ini.

Vaksin ini sangat berguna bagi orang-orang yang beresiko terkena virus rabies seperti dokter hewan, penjaga binatang, petugas kebun binatang, petugas laboratorium, serta para peneliti. Selain itu bagi para pelancong yang hendak berpergiaan ke negara-negara yang banyak dijumpai kasus-kasus rabies, vaksin rabies merupakan salah satu vaksin yang dianjurkan diberikan.

Vaksin diberikan dalam 3 tahap dosis: dosis pertama ketika pertama kali diberikan vaksin, kemudian diulang untuk kedua kalinya setelah 7 hari setelah dosis pertama, kemudian dilakukan pengulangan untuk ketiga kalinya pada hari ke-21 atau ke-28 setelah dosis pertama.

Bagi orang yang mungkin sangat amat sering terpapar, harus dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala untuk mengetahui kadar sistem pertahanan tubuh (antibody) yang masih terdapat pada orang tersebut. Jika sudah pernah divaksin dan kadar antibodinya sudah menurun sampai batas tertentu perlu dilakukan vaksin pemicu (boaster) tanpa harus dilakukan vaksin ulang.

Vaksin Rabies Pengobatan
Sedangkan jika virus rabies ini sudah masuk ke dalam tubuh, tindakan yang pertama kali harus dilakukan adalah hubungi segera ahli kesehatan Anda sehingga tindakan-tindakan dini dapat dilakukan dengan segera.

Jika orang yang terkena belum pernah divaksin rabies, orang tersebut harus diberikan vaksin sejumlah 5 kali. Pertama, pada saat terkena, kemudian selanjutnya pada hari ke-3, ke-7, ke-14, dan hari ke-28. Orang tersebut juga perlu mendapatkan antibody terhadap rabies (HRIG/human rabies immune globulin) bersamaan dengan vaksin yang pertama kali.

Jika orang yang terkena sudah pernah divaksin rabies sebelumnya, perlu diberikan 2 kali vaksin, pada saat terkena dan 3 hari kemudian. Sedangkan HRIG tidak diperlukan lagi.

Yang Tidak Dianjurkan
Vaksin ini harus diberikan hati-hati pada orang-orang dengan alergi dengan vaksin rabies atau vaksin lainnya. Selain itu orang-orang yang mendapatkan pelemahan sistem imun seperti penderita AIDS, pengobatan steroid, pengobatan kanker dengan radiasi atau obat harus mendapatkan perhatiaan khusus dari ahli kesehatan. Vaksin juga hendaknya tidak diberikan pada orang-orang yang alergi terhadap Neomycin, Chloroquine, Mefloquine.

Namun hal tersebut hanya berlaku untuk vaksin sebagai tindakan pencegahan, namun untuk sebagai tindakan pengobatan, vaksin mutlak diberikan tanpa mempertimbangkan penyakit-penyakit lainnya. Wanita hamil boleh diberikan vaksin ini dengan indikasi yang tepat. Tidak terdapat bukti terjadi kerusakan janin akibat vaksin ini.

Efek Samping Vaksin
Vaksin seperti halnya obat, memiliki kemungkinan untuk menimbulkan penyakit-penyakit lain sebagai efek samping. Efek samping yang mungkin terjadi adalah:

  • Pada 30-74% kasus akan terjadi nyeri, kemerahan, bengkak, gatal pada tempat suntikan.
  • Pada 5-40% terjadi sakit kepala, muntah nyeri pada perut, nyeri otot, pusing
  • Pada 6% kasus terjadi erupsi kulit, sakit pada persendian, demam
  • Dan pada kasus yang jarang terjadi Guillain-Barre Syndrome, serta kelaian saraf lainnya.

Jadi jika Anda mempunyai kemungkinan yang besar terpapar terpapar terhadap virus rabies, segeralah menghubungi ahli kesehatan Anda untuk mendapatkan vaksin yang tepat.
Namun jika Anda terkena virus rabies ini, segera minta ahli kesehatan Anda untuk mendapatkan tindakan yang tepat. Sebab semakin cepat tindakan diambil semakin besar untuk sembuh kembali. (Pandudiputra)

Referensi
Department of Health and Human Service. Rabies Vaccine : What You Need to Know. 2006.
Communicable Diseases and Epidemiology: Rabies vaccine fact sheet www.metrokc.gov
Rabies – Information and Prevention Tips. www.buzzle.com
RABIES Hydrophobia, Lyssa. www.penyakitmenular.info
Rabies vaccine and immune globulin www.cdc.gov
Vaccine Information for the Public and Health Professional: Rabies Disease www.vaccineinformation.org

Artikel Terkait


Vaksin rabies saat flu

ida.juita

Ketika Hewan Peliharaan Menjadi Sumber Penyakit ...

Aisa Tios,dr.

Apa Saja Hewan Terlarang Sebagai Peliharaan?

Jo Carolina Margaret, dr.