TanyaDok.com http://www.tanyadok.com Artikel Kesehatan, Cari Dokter dan Tanya Dokter Wed, 23 Apr 2014 04:13:28 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.8.1 Tangan kaki anak berkeringat http://www.tanyadok.com/konsultasi/tangan-kaki-anak-berkeringat http://www.tanyadok.com/konsultasi/tangan-kaki-anak-berkeringat#comments Wed, 23 Apr 2014 03:38:27 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=26257 Kontributor Leonita Hartanti, dr. aktif di TanyaDok.com.

Dok,saya mau tanya neh. anak saya umurnya sudah 5 bulan. tapi kok kaki dan tangan anak saya suka berkeringat yah Dok? saya khawatir. apa penyebab tangan kaki anak berkeringat? terima kasih..  

Konten Tangan kaki anak berkeringat hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/konsultasi/tangan-kaki-anak-berkeringat/feed/ 0
Radang kulit pada penis http://www.tanyadok.com/konsultasi/radang-kulit-pada-penis http://www.tanyadok.com/konsultasi/radang-kulit-pada-penis#comments Wed, 23 Apr 2014 03:11:38 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=26245 Kontributor Leonita Hartanti, dr. aktif di TanyaDok.com.

Dok, apa penyebab timbulnya radang kulit pada penis? lalu apa obat radang kulit pada penis?

Konten Radang kulit pada penis hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/konsultasi/radang-kulit-pada-penis/feed/ 0
Kupas Fakta Minuman Berkarbonasi oleh SEAFAST Center http://www.tanyadok.com/adv/kupas-fakta-minuman-berkarbonasi http://www.tanyadok.com/adv/kupas-fakta-minuman-berkarbonasi#comments Tue, 22 Apr 2014 10:53:08 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=26214 Kontributor dr. Agnes Susanto aktif di TanyaDok.com.

Seiring dengan  berkembangnya pengetahuan dan teknologi seputar makanan dan minuman, masyarakat semakin memperhatikan efek dari makanan ataupun minuman yang mereka konsumsi terhadap kesehatan. Salah satu yang marak dibahas oleh masyarakat adalah sensasi ‘krenyes’ di lidah dari minuman bersoda atau minuman berkarbonasi, mulai dari kesalahan informasi akibat penjelasan yang kurang ilmiah hingga paranoia karena kurangnya pengertian masyarakat akibat mis-informasi ini. Minuman berkarbonasi beredar sejak awal abad 19 dalam bentuk air bersoda dan tahun 1851 mulai diproduksi minuman berkarbonasi dengan perisa. Minuman bersoda sendiri mulai beredar di Indonesia sejak tahun 1927. Jadi bisa disimpulkan bahwa minuman berkarbonasi bukanlah hal baru tapi yang perlu diperhatikan adalah fakta-fakta di balik rumor yang marak diperbincangkan di masyarakat. Oleh karena itu, Southeast Asia Food and Agricultural & Tehnology (SEAFAST) Center dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan studi literatur terhadap kebenaran hal ini. Asosiasi Industri Minuman Ringan atau ASRIM juga mengundang para pakar, Dr. Puspo Edi Giriwono (Peneliti dari SEAFAST Center), Prof. Dr. Made Astawan (Ahli Gizi dan Pakar Teknologi Pangan) serta Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB (Pakar Gastroenterologi) untuk membahas efek karbonasi pada minuman terhadap kesehatan manusia. Karbonasi pada minuman Karbonasi dalam minuman dilakukan melalui proses karbonasi, memasukkan karbon dioksida (CO2) ke dalam cairan dengan tekanan tinggi. Karbonasi inilah yang akan menghasilkan gelembung dalam minuman dengan cita rasa ‘mengigit’ atau ‘krenyes’. Penggunaan karbon dioksida dalam minuman telah dimulai sejak abad ke-18 di Inggris. Metode ini diaplikasikan oleh para produsen minuman ringan berperisa untuk menciptakan sensasi sparkle dan segar. Karbon dioksida ini aman untuk digunakan dalam produk minuman. Hasil kajian Join Expert Committee on Food Additives (JECFA) memang belum menetapkan berapa nilai ADI atau Asupan Harian yang Diperbolehkan untuk karbon dioksida ini namun, dikatakan lebih lanjut, bahwa hal ini menunjukkan tidak adanya kekhawatiran risiko mengenai penambahan CO2 dalam minuman. Badan Pengawas Obat dan Makanan juga menetapkan bahwa karbon dioksida sebagai bahan pengkarbonasi sudah diijinkan penggunaannya pada produk pangan untuk membentuk karbonasi pada makanan dan minuman. Ahli gizi dan pakar teknologi pangan, Prof. Dr. Made Astawan, juga mengatakan, “Minuman bersoda akan tetap ‘menggigit’ atau ‘krenyes’ selama kemasannya belum dibuka. Menariknya, saat diminum, sebagian besar karbonasi ini tidak sampai di lambung karena sebagian besar gas sudah menguap ketika kemasan dibuka.” Lanjutnya lagi, “Jadi hanya gelembung yang tersisa dalam minuman akan segera diserap melalui dinding saluran cerna. Jumlah ini relatif sangat kecil dibandingkan dengan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan dari tubuh secara alami melalui metabolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi.” Efek karbonasi terhadap kesehatan Banyak rumor yang beredar mengenai kekhawatiran terhadap efek karbonasi untuk kesehatan. Hal inilah yang melatarbelakangi studi yang dilakukan oleh SEAFAST Center. Berikut ini adalah pemaparan hasil studi literaturnya: Karbonasi dan kesehatan mulut: berdasarkan hasil riset, karbonasi tidak dapat menjadi penyebab tunggal kerusakan gigi yang terjadi. Studi klinis menunjukkan bahwa rusaknya enamel gigi lebih disebabkan karena faktor lainnya yang memudahkan keasaman air liur meningkat dengan cepat seperti penderita karies atau gigi berlubang. Sehingga perlu diperhatikan tingkat keasaman tinggi tersebut yang juga didapat dari produk makanan dan minuman lain yang tidak berkarbonasi. Menjaga kesehatan gigi adalah faktor penting dalam kesehatan gigi. Karbonasi dan kanker esofagus atau kerongkongan: temuan terakhir hasil penelusuran literatur pada beberapa artikel medis, memusatkan perhatian pada dampak lebih lanjut dari penyakit GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease yaitu meningkatnya risiko timbulnya kanker esofagus atau kerongkongan. Hasil studi ini menegaskan bahwa TIDAK ada keterkaitan konsumsi minuman berkarbonasi dengan kanker esofagus. Faktor dominan penyakit kanker ini adalah merokok, obesitas dan konsumsi alkohol. Karbonasi dan kesehatan lambung: hasil penelurusan berbagai artikel ilmiah tentang dampak karbonasi terhadap kesehatan saluran pencernaan tidak ditemukan adanya korelasi antara karbonasi dalam minuman dengan kesehatan saluran pencernaan. Faktor yang menyebabkan penyakit pada saluran cerna sangat kompleks sehingga tidak bisa disimpulkan minuman ringan berkarbonasi menyebabkan ternjadinya penyakit – penyakit ini. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, seorang pakar gastroenterologi dari Universitas Indonesia juga menambahkan mengenai keterkaitan minuman berkarbonasi terhadap kesehatan lambung, “Secara penelitian klinis juga memperlihatkan bahwa konsumsi minuman berkarbonasi oleh seseorang dalam kondisi yang sehat dalam jumlah yang wajar tidak akan menimbulkan gangguan terhadap kesehatan lambung.” Hasil studi literatur SEAFAST Center ini akan mulai dipublikasikan pada bulan April 2014 supaya masyarakan bisa mendapatkan informasi yang benar mengenai minuman berkarbonasi dan lebih memahami fakta di balik karbonasi ini. “Kami ingin membantu membangun masyarakan yang lebih memahami apa yang mereka konsumsi, tidak berdasarkan pada persepsi umum semata namun informasi yang berlandaskan pada bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga mereka dapat membuat keputusan”, tegas Suroso.   Sumber: Kupas Fakta Tentang Karbonasi Dalam Minuman: Pemaparan Hasil Studi Literatur “Efek Karbonasi dalam Minuman Terhadap Kesehatan”. ASRIM 2014 Apr 2.

Konten Kupas Fakta Minuman Berkarbonasi oleh SEAFAST Center hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/adv/kupas-fakta-minuman-berkarbonasi/feed/ 0
Pulih dari sakit typus http://www.tanyadok.com/konsultasi/pulih-dari-sakit-typus http://www.tanyadok.com/konsultasi/pulih-dari-sakit-typus#comments Tue, 22 Apr 2014 04:30:19 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=26204 Kontributor Sherly Oliviantin, dr. aktif di TanyaDok.com.

Dok.. saya terkena sakit typus.. bagaimana ya cara supaya cepat pulih dari sakit typus? mohon infonya..

Konten Pulih dari sakit typus hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/konsultasi/pulih-dari-sakit-typus/feed/ 0
Kadar hormon testosteron saat remaja http://www.tanyadok.com/konsultasi/kadar-hormon-testosteron-saat-remaja http://www.tanyadok.com/konsultasi/kadar-hormon-testosteron-saat-remaja#comments Mon, 21 Apr 2014 05:23:48 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=26128 Kontributor Leonita Hartanti, dr. aktif di TanyaDok.com.

Dok, saya ingin bertanya mengenai hormon testosteron.. saya pria berumur 16 tahun saya sering merasa lelah (tidak fit atau kurang berstamina) perasaan sering tidak tenang, mood sering berubah ubah(mudah tersinggung) dan belakangan ini rambut saya agak menipis.. pertanyaan saya: 1.apakah saya kekurangan hormon testosteron? 2.berapakah kadar hormon testosteron pada seorang pria remaja? terima kasih..  

Konten Kadar hormon testosteron saat remaja hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/konsultasi/kadar-hormon-testosteron-saat-remaja/feed/ 0
Kekerasan Seksual Anak: Waspada dan Hukuman Berat http://www.tanyadok.com/berita/kekerasan-seksual-anak-waspada-dan-hukuman-berat http://www.tanyadok.com/berita/kekerasan-seksual-anak-waspada-dan-hukuman-berat#comments Thu, 17 Apr 2014 06:08:05 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=25933 Kontributor TanyaDok.com aktif di TanyaDok.com.

Belum lama ini terdengar kabar tentang kekerasan seksual terhadap anak berumur enam tahun. AK (6) merupakan korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh petugas kebersihan sekolah di TK Jakarta Internasional School (JIS) di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ibunda AK, Th, melaporkan kejadian ini ke Mapolda Metro Jaya. Menurutnya, berdasarkan pengakuan anaknya, kejadian ini terjadi di toilet sekolahnya dan dilakukan oleh lebih dari satu orang dan beberapa kali. Ada petugas kebersihan yang berjaga di sana yang menunggu kedatangan AK. Petugas itu kemudian menyekap AK dan melakukan tindakan asusila kepada bocah malang tersebut. Th mengaku sudah curiga ada hal yang tidak beres terjadi pada anaknya karena beberapa kali melihat anaknya sengaja buang air kecil di rumah sebelum berangkat sekolah. Selain itu, kadang AK menekan penisnya secara sengaja untuk mengeluarkan kencing karena takut kencing di sekolah. 20 Maret 2014, Th melihat bekas luka di tubuh AK dan AK menceritakan bahwa ada yang berbuat jahat kepadanya di toilet sekolah. Mendapatkan keterangan tersebut, Th melaporkan kejadian ini kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya. Sampai saat ini, Agun dan kawannya Firziawan ditetapkan sebagai tersangka. Mereka diduga melakukan perbuatan asusila terhadap AK di toilet sekolah tersebut pada Maret 2014 silam, bersama dua orang lainnya. Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengatakan, pihak JIS harus bertanggung jawab atas kasus tersebut meskipun melibatkan pekerjanya yang berstatus pekerja alih daya. “Mau tidak mau, JIS harus tanggung jawab secara perdata dan pidana karena itu terjadi di lingkungan sekolah dan dilakukan oleh pekerja JIS,” ujar Arist. Orang tua harus selalu waspada Menanggapi kasus kekerasan seksual di atas, tim TanyaDok melakukan wawancara seorang dokter spesialis anak, dr. Ariani Dewi Widodo, SpA, salah satu dokter spesialis anak yang aktif dalam komunitas dokter TanyaDok. Komentar pertama dokter spesialis lulusan FKUI ini saat diwawancara adalah “Kasus ini bukan lagi sekedar pelecehan seksual, tapi sudah kekerasan seksual!” Saat ditanyakan mengenai dampak peristiwa ini terhadap korban anak, ia menjelaskan, “Anak sangat mungkin untuk mengalami gangguan tumbuh kembang, terutama gangguan psikologis. Anak bisa mengalami mimpi buruk, gangguan tidur, gangguan makan, takut kepada orang lain atau tempat tertentu yang berasosiasi dengan kejadian, stres pascatrauma. Semua gejala ini sudah tampak pada korban seperti pemberitaan di media-media.” “Selain itu, dalam jangka panjang anak bisa menjadi orang yang menarik diri, depresi, cemas, rendah diri dan prestasi belajar menurun. Risiko anak untuk mengalami kepribadian multipel juga meningkat,” lanjutnya. Dokter spesialis anak yang juga mengelola klinik kesehatan anak di bilangan Tanjung Duren, Tania Kids Center, juga menuturkan bahwa anak dengan riwayat korban kekerasan seksual berisiko tinggi juga dengan penyalahgunaan obat, prostitusi dan perilaku yang senang menyakiti diri sendiri. Saat ditanyakan mengenai peran ibu atau orang tua dalam kejadian kekerasan seksuai ini, beliau mengatakan, “Orang tua dan keluarga harus mendampingi anak karena anak korban kekerasan seksual perlu dukungan penuh seluruh keluarga dan peer group karena kejadian demikian sangat traumatis. Konseling psikologis intensif diperlukan bersamaan dengan perhatian penuh. Anak juga harus diamankan dari orang-orang yang mungkin menyakitinya.” “Orang tua harus selalu memastikan keamanan anak. Pastikan anak selalu dititipkan pada orang yang dipercaya.” Beliau juga memberikan catatan khusus bahwa kekerasan seksual pada anak paling sering dilakukan oleh anggota keluarga atau orang yang dikenal oleh anak. “Orang tua harus waspada bila anak mengalami gejala ke arah penyakit akibat hubungan seksual misalnya, keputihan berulang, perdarahan anus, nyeri pada vagina atau anus, gangguan saat buang air kecil atau buang air besar yang tidak biasanya. Adanya cedera pada bagian payudara, bokong, perut bawah, paha, sekitar alat kelamin, anus juga bisa menjadi sebuah petanda kecurigaan adanya kekerasan seksual. Tanda lainnya adalah bila ada celana dalam yang robek atau berdarah.” Pencegahan kekerasan seksual yang terjadi pada anak melibatkan banyak faktor tapi salah satu cara pencegahan adalah dengan mengenalkan kepada anak sejak dini apa saja hal yang normal atau baik dilakukan orang lain (atau OK) atau yang tidak wajar bila dilakukan orang lain (atau not OK). Di akhir wawancara, beliau juga berpesan, “Orang tua harus selalu waspada karena seringkali pelakunya adalah orang dekat yang tidak disangka-sangka!” Hukuman berat untuk pelaku pedofilia homoseksual Di kesempatan lain, tim TanyaDok juga  melakukan wawancara singkat dengan dr. Dharmawan Purnama, SpKJ, dokter spesialis kedokteran jiwa yang tergabung dalam jaringan dokter TanyaDok. “Dampak peristiwa ini bagi si korban anak bisa meluas ke mana-mana, mulai dari perkembangan psikologis sampai menjadi psikopatologi yang bisa menjurus ke gangguan psikiatrik. Dampak ini bisa dialami sejak saat ini misalnya mimpi buruk dan takut ke toilet seperti pada pemberitaan-pemberitaan yang beredar. Mimpi buruk dan takut ke toilet ini bisa jadi merupakan manifestasi depresi atau PTSD (posttraumatic stress disorder)”, tutur dokter yang mengecam para pelaku kejahatan seksual ini. Menurut beliau, potensi terburuk gangguan psikiatrik yang bisa dialami oleh sang korban adalah “Korban bisa menjadi mengidap paranoia, yaitu orang yang paranoid, orang yang pencuriga dan ketakutan.” Kondisi gangguan psikologis ini menurut dokter spesialis yang juga direktur Smart Mind Center, bisa disembuhkan asal dilakukan intervensi pertolongan psikologis secepatnya. Intervensi ini bisa berupa psikoterapi, playterapi sampai psikofarmakoterapi jika diperlukan. Terkait pelaku kejahatan seksual ini, beliau mengatakan “Pelaku kejahatan ini tampaknya adalah seorang pedofilia homoseksual. Namun, hal ini jangan dijadikan alasan!” “Pelaku harus dihukum yang berat untuk efek jera karena pedofilia homoseksual ini bukan gangguan jiwa yang bebas dari hukuman! Masyarakat perlu dididik untuk mengendalikan diri agar tidak merampas hak orang lain dan dalam kasus ini, hak anak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan kondusif untuk masa depannya yang cerah”, tegasnya. Demikian ulasan khusus tim TanyaDok mengenai kasus kekerasan seksual pada anak yang saat ini marak dibicarakan di media-media. Semoga dengan ulasan ini, para Sobat TanyaDok khususnya para orang tua bisa lebih waspada dan menjadikan peristiwa ini sebuah pembelajaran karena anak adalah titipan Tuhan dan anugrah yang terindah dari-Nya.   Ditulis oleh Gloria Safira dan dr. Agnes Susanto (review medis)

Konten Kekerasan Seksual Anak: Waspada dan Hukuman Berat hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/berita/kekerasan-seksual-anak-waspada-dan-hukuman-berat/feed/ 0
Haid tidak teratur http://www.tanyadok.com/konsultasi/haid-tidak-teratur-6 http://www.tanyadok.com/konsultasi/haid-tidak-teratur-6#comments Wed, 09 Apr 2014 16:31:41 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=25431 Kontributor Dewata Aprilia Marilyn, dr. aktif di TanyaDok.com.

Malam dok,saya mau tanya, umur saya 18 tahun tapi siklus haid tidak teratur, saya pernah mengalami 7 bulan tanpa haid pada saat umur saya 17 tahun,setelah 7 bulan itu haid saya kembali normal, tapi hanya 3 bulan saja.. dari saat itu sampai sekarang bisa dihitung 3 bulan lebih saya tdk mengalami haid,sampai umur saya kini 18 tahun. apakah itu pertanda jika saya punya penyakit atau ada kelainan lain dalam tubuh saya dok? Saya mohon penjelasannya dok, terima kasih  

Konten Haid tidak teratur hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/konsultasi/haid-tidak-teratur-6/feed/ 0
Penyakit Kulit pada Lansia http://www.tanyadok.com/kesehatan/penyakit-kulit-pada-lansia http://www.tanyadok.com/kesehatan/penyakit-kulit-pada-lansia#comments Wed, 09 Apr 2014 10:20:21 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=25421 Kontributor Ayang Halim, dr aktif di TanyaDok.com.

Saat ini jumlah dan proporsi usia lanjut semakin meningkat baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan pada tahun 2030, 31% populasi penduduk Amerika akan berusia 55 tahun bahkan lebih.1 Seiring bertambahnya usia, kulit pada usia lanjut mengalami banyak perubahan karena pengaruh intrinsik maupun ekstrinsik, sehingga kemungkinan munculnya kelainan yang berhubungan dengan kulit semakin meningkat. Manifestasi klinis penyakit kulit dapat berbeda dari gambaran klasik pada populasi dengan usia lebih muda.2 Penuaan merupakan suatu proses penurunan progresif fungsi dan kapasitas maksimal seluruh organ tubuh, termasuk kulit.1 Terdapat dua tipe penuaan kulit yang berkontribusi terhadap kelainan kulit pada usia lanjut. Penuaan intrinsik ditentukan/dikendalikan secara genetik, perubahan struktur kulit terjadi karena proses alami pertambahan usia, hal ini tak terhindarkan dan terjadi pada semua individu. Penuaan ekstrinsik disebabkan oleh faktor-faktor ekstrinsik (paparan sinar ultraviolet, merokok, dan polutan lingkungan lainnya).2 Beberapa kelainan kulit yang sering ditemukan pada usia lanjut: Xerosis kutis Xerosis atau kulit kering sering ditemukan pada usia lanjut, insidens dan keparahannya meningkat seiring bertambahnya usia. Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui. Xerosis pada usia lanjut bersifat multifaktorial, meliputi faktor genetik, perubahan proses keratinisasi dan kandungan lipid pada kulit yang menua serta pengaruh lingkungan (cuaca dingin dan kering, pemakaian bahan-bahan bersifat iritan, penggunaan pemanas atau pendingin ruangan secara berlebihan), penyakit tertentu (gagal ginjal kronik, hipotiroid, HIV, keganasan, defisiensi nutrisi terutama zinc dan asam lemak esensial), terapi atau obat-obat tertentu (radiasi, diuretik, isotretinoin) semua ini dapat meningkatkan kerentanan terjadinya xerosis pada kulit yang menua.3,4 Pada kulit yang menua, perubahan terjadi pada epidermis maupun dermis. Perubahan terpenting pada epidermis terjadi pada stratum korneum, yaitu jumlah lipid interselular stratum korneum berkurang, turnover sel lebih lambat, produksi Natural Moisturizing Factor yang terdapat pada keratinosit menurun. Pada dermis terjadi penurunan jumlah dan fungsi kelenjar sebasea dan kelenjar keringat, penurunan jumlah pembuluh darah, serta penurunan pergerakan air dari dermis ke epidermis.4 Gejala umumnya berupa rasa gatal, terbakar, tersengat, dan sensasi seperti tertarik. Xerosis merupakan penyebab tersering pruritus generalisata pada usia lanjut. Kulit tampak kering, kasar, retak, dengan fisura dan skuama, tampilannya seperti pola porselen yang retak. Xerosis paling sering tampak pada ekstremitas, tapi dapat pula terlihat pada badan dan wajah.2,4 Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tatalaksana kulit kering pada usia lanjut: menggunakan humidifier, kelembaban relatif diatur pada 45-60% mengatur suhu ruangan serendah mungkin senyaman yang dapat ditoleransi pasien mandi dengan air hangat selama 10 menit setiap harinya untuk menghidrasi kulit tidak direkomendasikan menggunakan bath oil karena risiko terpeleset hindari sabun yang tidak berpelembab atau bahan-bahan lain yang bersifat mengeringkan  menggunakan moisturizer minimal 2x sehari, setelah mandi dan sebelum tidur.5   Pruritus Pruritus didefinisikan sebagai sensasi tidak menyenangkan pada kulit yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk.6 Sedikitnya 50% usia di atas 70 tahun mengalami pruritus berkepanjangan yang sangat mengganggu.5 Pruritus kronik berlangsung lebih dari 6 minggu, hal ini sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya bahkan dapat menyebabkan gangguan tidur hingga depresi. Penyebab pruritus pada usia lanjut bervariasi, dapat diklasifikasikan berdasarkan asal etiologinya, yaitu: Kulit (xerosis, dermatitis, infeksi) Saraf (tumor otak, post stroke) Psikatri (demensia, skizofrenia, gangguan kepribadian) Penyakit sistemik (kolestasis, gagal ginjal, diabetes mellitus, penyakit tiroid) Obat (ACEI, opioid).6   Terapi awal difokuskan untuk segera meringankan gejala pruritus.2 Selain dengan tatalaksana nonfarmakologi seperti pada kulit kering, tidak menggaruk, menjaga kuku tetap pendek, juga dapat diberikan terapi simtomatik topikal berupa emolien, kortikosteroid, imunomodulator, menthol, capsaicin, anestesi topikal, atau antihistamin topikal, yang dapat dikombinasi dengan terapi sistemik seperti antihistamin, antidepresan, dan neuropleptik.5,6 Selanjutnya dicari etiologi penyebab pruritus sehingga dapat dipilih pengobatan yang sesuai agar efektivitas pengobatan optimal.2  

Konten Penyakit Kulit pada Lansia hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/kesehatan/penyakit-kulit-pada-lansia/feed/ 0
Malaria atau Demam Biasa? http://www.tanyadok.com/konsultasi/malaria-atau-demam-biasa http://www.tanyadok.com/konsultasi/malaria-atau-demam-biasa#comments Fri, 04 Apr 2014 04:21:37 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=25114 Kontributor dr. Agnes Susanto aktif di TanyaDok.com.

Siang, Dok. Saya mau nanya nih mengenai penyakit malaria. Saya baca dari website kalau penyakit itu banyak di daerah timur Indonesia ya? Nah, saya akan bekerja ke daerah Maluku situ. Pertanyaannya: 1. Bagaimana ya mencegah supaya saya tidak terkena malaria? Katanya ada obat yang bisa saya minum untuk mencegah kena penyakit ini. Bagaimana cara minum obatnya dan apa sih obatnya? 2. Kalau ud terkena malaria, saya takut nih. Apa tanda-tanda gejalanya? Orang bilang gejalanya itu demam tapi gimana membedakan demam karena pilek biasa dengan demam karena malaria? 3. Malaria bisa sembuh ngga ya? Kalau nanti saya pulang dari sana dan balik lagi ke keluarga bisa menular ngga? Atau harus tunggu sembuh dulu? Mohon bantuan untuk jawabannya ya dok abis saya cukup was-was juga nih dengan pekerjaan yang akan saya lakukan di daerah Maluku ini.

Konten Malaria atau Demam Biasa? hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/konsultasi/malaria-atau-demam-biasa/feed/ 0
Haid pada ibu menyusui http://www.tanyadok.com/konsultasi/haid-pada-ibu-menyusui http://www.tanyadok.com/konsultasi/haid-pada-ibu-menyusui#comments Thu, 03 Apr 2014 14:45:17 +0000 http://www.tanyadok.com/?p=25106 Kontributor Maria Kaha, dr aktif di TanyaDok.com.

Siang Dok! Saya ingin bertanya, istri saya sudah hampir 2 tahun belum haid lagi. Apakah mungkin haid pada ibu menyusui? Istri saya juga tidak memakai KB selama 6 bulan terakhir ini. Mohon infonya Dok. Terima kasih

Konten Haid pada ibu menyusui hanya di TanyaDok.com.

]]>
http://www.tanyadok.com/konsultasi/haid-pada-ibu-menyusui/feed/ 0