Tetap Bergairah di Kala Usia Senja

Tetap Bergairah di Kala Usia Senja

……

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram
Bersamamu

Mendengarkan lagu tersebut tentu membuat kita menyadari bahwa kebersamaan dan kemesraan dengan pasangan merupakan hal yang penting. Kemesraan di usia 90 tahun sama pentingnya dengan kemesraan yang kita bangun saat kita berusia 19 tahun, meski kita tahu bahwa  aspek-aspek yang menyusun hubungan ini berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Hubungan yang intens dengan kedekatan, emosi, dan dorongan intim menjadi jalan, beserta dengan hidup yang naik turun, untuk mencapai kebijaksanaan dalam hidup melalui pengalaman. Dan ketika tahun-tahun kehidupan berlalu, kita akan dan harus mengakui bahwa perubahan fisik di dalam tubuh membuat kita kurang mampu melakukan hal-hal yang pernah dapat kita lakukan.

Semakin lanjut usia sangat mungkin bahwa bertemu dengan teman-teman menjadi makin sulit dan mempertahankan hubungan intim yang baik membutuhkan banyak sikap saling pengertian dan kesabaran. Hal ini bukan berarti hubungan intim dan cinta tidak menjadi bagian usia senja, tetapi kehidupan telah berubah dan akan terisi dengan hal lain yang lebih memberikan kepuasan dalam hidup, seperti, karir yang pernah dicapai, kehidupan keluarga yang harmonis, persahabatan, dan berbagai hal menarik lain.

Menjaga Kehidupan Emosional di Usia Senja

Bagi pasangan usia lanjut menjaga hubungan emosional dengan sikap saling mengerti merupakan hal yang sangat penting. Hal ini disebabkan pasangan usia lanjut juga tidak lepas dari “masalah hubungan relasional” (relational problem) pada pasangan yang dapat terlihat dari komunikasi negatif ( misalnya, kritik), komunikasi terdistorsi (misalnya, harapan-harapan yang tidak realistis), atau non-komunikasi/tanpa komunikasi (misalnya, menarik diri dan menghindar) yang merupakan kerusakan dalam fungsi keluarga atau menjadi gejala pada salah satu atau keduanya.

Kegagalan menjaga kehidupan emosional yang baik di antara pasangan dapat mengantarkan akhir hubungan pada perceraian atau perpisahan (separasi). Tren perceraian di dunia barat meningkat sejak tahuan 1960an. Hal ini telah diteliti dan berhubungan dengan kemandirian wanita secara ekonomi dan psikologis. Penjelasan yang dipercaya adalah wanita akan kurang bertahan dalam sebuah hubungan yang tidak menyenangkan jika mereka tidak lagi ditekan dengan alasan ekonomi. Untuk sebagian besar wanita, hal ini masih merupakan alasan untuk bertahan dan mereka menjadi pihak yang paling dirugikan ketika terjadi perceraian karena mereka menggantungkan kehidupannya pada suaminya.

Hal demikian tetap saja dapat terjadi pada usia lanjut. Pada usia lanjut, pasangan menjadi lebih memiliki waktu untuk bersama, tidak lagi disibukkan dengan berbagai tuntutan pekerjaan selain karena alasan kapasitas fisik yang lebih terbatas. Kebersamaan yang dimiliki ini harus diisi dengan komunikasi yang baik bukan dengan pilihan untuk makin melihat kelemahan atau kekurangan masing-masing.

Hasil observasi John Gottman menyatakan bahwa proses separasi pasangan terjadi melalui proses kritik, kehilangan rasa hormat/tidak suka, sikap defensif, dan bersikap keras/penolakan (stonewalling). Prediktor separasi yang paling baik adalah rasa tidak suka/jijik dari pihak istri. Dari proses separasi ini akan kita temukan perbedaan cara komunikasi antar gender. Apabila sudah terjadi permasalahan, wanita cenderung akan memberikan kritik, sedangkan pria akan memberikan sikap penolakan (stonewalling). Urut-urutan pada proses separasi ini adalah komplain dan kritik yang menyebabkan sikap tidak suka/jijik, kemudian berlanjut menjadi sikap defensif, lalu menjadi penarikan dari interaksi.

Hal tersebut tentu bukan hal yang dinginkan dalam hubungan dengan pasangan. Bentuk hubungan yang selalu diharapkan dalam hubungan pasangan adalah cinta mendalam (passionate love) yang membuat setiap insan berpikir dan terbayang terus akan pasangannya meskipun saat jarak sedang memisahkan. Jatuh cinta dapat terjadi , berulang terus, tanpa memandang pada usia dan hal ini hanya menjadi indah pada mereka, pasangan yang saling berlomba untuk membuktikan komitmen hubungan pernikahan mereka.

Pasangan yang bijak akan memahami bahwa pada usia lanjut, hal yang terpenting adalah komunikasi dan berbagi memori kolektif bersama. Mengapa komunikasi sangat penting? Karena pada usia lanjut, orang cenderung mudah untuk merasa sendirian, selama masih memiliki pasangan, tentu hal ini dapat dihindari. Dan adakah hal yang lebih penting pada saat Anda mulai terbatas dengan kondisi fisik selain teman yang selalu ada untuk berbagi cerita?

Berbagi memori kolektif berarti saling mengingatkan. Pernahkah Anda mendengar seorang kakek yang menjadi lebih mudah untuk mengalami pikun setelah pasangannya meninggal? Bukankah beberapa dari Anda juga sering berkata, “Ma, kacamata dimana ya, Ma?”. Ini adalah berbagi memori bersama, satu sama lain saling mengingatkan dan hal ini merupakan hal yang indah untuk dimiliki pasangan. Pasangan juga bisa menggugah memori kolektif ini dengan menggunakan berbagai hal yang pernah mereka lakukan bersama di masa muda.

Artikel Terkait


Hubungan Intim bagi Penderita Diabetes!

Aisa Tios,dr.

Menjaga Kesehatan Vagina

Andreas Erick Haurissa, dr.

Dispareunia, Nyeri Saat Berhubungan Seks

Andreas Erick Haurissa, dr.

Ukuran Mr. P Bisa Dilihat Dari Jari Tangan Pria

Aldo Fransiskus Marsetio, dr., BMedSc