Pilihan Menu Olahraga bagi Penderita Diabetes

Pilihan Menu Olahraga bagi Penderita Diabetes

Sudah bukan rahasia lagi kalau orang dengan Diabetes atau kencing manis dianjurkan untuk berolahraga dalam rangka memerangi obesitas. Tapi apakah anda yakin hanya untuk obesitas saja? Bagaimana dengan orang yang diabetes namun tidak obesitas? Apakah itu berarti mereka tidak perlu berolahraga dan hanya perlu menjaga makanan? Olahraga dianjurkan untuk pasien diabetes bukan hanya untuk menurunkan berat badan, namun untuk menjaga metabolisme gula (glukosa) dalam tubuh. Oleh karena itu olahraga juga berguna untuk mencegah diabetes. Namun di sisi lain, apakah olahraga aman bagi penderita diabetes yang mempunyai fluktuasi kadar gula darah? Mari kita membaca artikel berikut untuk penjelasan lebih lanjut! Bagaimana sebenarnya peranan insulin dalam kontrol gula darah kita? Insulin memegang peranan dalam metabolisme glukosa. Kelainan metabolisme glukosa adalah masalah utama pada penderita diabetes. Diabetes sendiri ada dua macam, yaitu yang tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 mempunyai kelainan berupa kurangnya produksi insulin. Sehingga membutuhkan suntikan insulin untuk pengobatannya. Sedangkan diabetes tipe 2 disebabkan karena kekebalan tubuh terhadap insulin dan penurunan fungsi sel beta pankreas. Diabetes tipe 2 umumnya diobati dengan obat minum, namun dapat membutuhkan insulin di kemudian hari. Lokasi bekerja utama dari insulin adalah di otot, sedangkan hati adalah tempat penyimpanan glukosa yang utama dalam bentuk glikogen. Otot membutuhkan glukosa untuk bekerja. Kontraksi otot pada saat olahraga akan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot sebanyak 7-20 kali. Sehingga, mekanisme lokal dan seluruh tubuh bekerja untuk meningkatkan pengambilan glukosa dari hati dan transport glukosa ke otot, salah satunya dengan peningkatan produksi glukosa dari dalam hati. Seiring dengan peningkatan pengambilan glukosa, kadar insulin dalam darah pun juga meningkat, sehingga membuat pengambilan glukosa oleh otot menjadi semakin efektif. Insulin sendiri...
Peran Tes HbA1C Dalam Mendiagnosa Diabetes

Peran Tes HbA1C Dalam Mendiagnosa Diabetes

  Pernahkan anda mendengar HbA1C? Kode tersebut mungkin hanya terlihat seperti sebuah susunan huruf dan angka bagi anda. Namun tahukah Sobat bahwa diabetes tidak hanya dapat didiagnosa melalui gejala cepat lapar, cepat haus, dan banyak berkemih?  Diabetes juga tidak hanya dapat didiagnosa melalui tes gula darah saja. Lantas, apa hubungannya antara HbA1C dengan diabetes? Simak artikel berikut untuk mengetahuinya lebih lanjut.   Apakah sebenarnya HbA1C itu? Seperti yang mungkin sudah anda ketahui, sel darah merah kita mengandung haemoglobin, molekul yang membawa oksigen. HbA1C adalah suatu molekul haemoglobin yang terikat dengan glukosa alias gula. Sel darah merah kita dapat hidup selama 8-12 minggu. Oleh karena itu, pengukuran HbA1C pada tes laboratorium dapat mengukur kadar glukosa darah secara rata-rata selama 2-3 bulan terakhir. Normalnya, nilai HbA1C pada bukan penderita diabetes adalah 3,5%-5,5%. Sedangkan untuk penderita diabetes, nilai kontrol gula darah yang baik adalah di bawah 6.5%. Peran test HbA1C dalam  penegakan diagnosa Diabetes Sampai sekarang ini, tes HbA1C merupakan cara yang paling baik untuk mengetahui apakah gula darah dalam batas kontrol yang baik. Seringkali tes ini dilakukan pada orang yang sudah menderita diabetes. Kadar gula darah berfluktuasi dari menit ke menit, jam ke jam, dan hari ke hari. Sedangkan kadar HbA1C berubah secara perlahan, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui ‘kualitas’ dari kontrol gula darah. Pada penderita diabetes, kadar glukosa cenderung mudah meningkat dibandingkan kondisi normal, menurun dengan olah raga, meningkat setelah makan, apalagi setelah makan makanan manis, sehingga sulit untuk dikontrol. Namun hingga saat ini penggunaannya untuk mendiagnosis diabetes masih menjadi perdebatan. Tes gula darah biasa dapat dengan mudah dipengaruhi oleh status puasa (terakhir kali makan) dan pola harian. Mengapa HbA1C...
Mari Cegah Diabetes dengan Olahraga!

Mari Cegah Diabetes dengan Olahraga!

Diet dan olahraga merupakan cara untuk mencegah anda terkena berbagai macam penyakit, termasuk diabetes. Tapi apakah anda tahu, berapa lama olahraga yang efektif sehingga dapat mencegah diabetes?  Haruskah anda harus lari berkilometer-kilometer setiap harinya? Pada saat seseorang menderita diabetes, beberapa organ tubuhnya menjadi ‘kebal’ terhadap insulin. Padahal, insulin berfungsi untuk mengangkut gula dari darah ke organ-organ tubuh untuk kemudian diolah menjadi energi. Kekebalan terhadap insulin ini seringkali ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih, namun juga ada yang merupakan turunan atau genetik. Berolahraga meningkatkan pengambilan gula dari darah kepada organ otot. Olahraga membuat otot menjadi lebih sensitif terhadap insulin dengan meningkatkan aliran darah sehingga akan meningkatkan penggunaan glukosa sebagai sumber energi. The American College of Sports Medicine dan the American Diabetes Association juga mendukung fakta bahwa dengan berolahraga akan dapat membantu dalam mempertahankan kadar gula darah yang baik. Sebuah penelitian di Massachusetts General Hospital juga menemukan bahwa tidak perlu lari marathon atau diet ekstrim sehingga kelaparan hanya untuk mengontrol gula darah. Olahraga seperti jalan cepat selama 30 menit sehari, 5 hari seminggu, sudahlah cukup untuk penderita diabetes atau mereka yang mau mencegah diabetes tipe 2. Menariknya, olahraga jalan cepat ini mampu menurunkan berat badan secara rerata 7.5 kilo, jika ditambah dengan mengurangi konsumsi makanan berlemak sampai 25%. Olahraga jalan cepat seperti yang disebutkan di atas bisa menurunkan resikonya. Tapi bagaimana dengan sensitivitas insulin? Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, diabetes terjadi karena penurunan produksi insulin atau penurunan sensitivitas insulin. Penelitian lain menemukan bahwa semakin banyak latihan fisik yang anda lakukan, semakin baik sensitivitas insulin anda. Bahkan, semakin banyak jumlah kalori yang anda bakar per menitnya melalui olahraga intensitas tinggi, memberikan dampak yang...
Pasien Gagal Jantung Sebaiknya Memeriksakan Kesehatan Tulang

Pasien Gagal Jantung Sebaiknya Memeriksakan Kesehatan Tulang

Para peneliti merekomendasikan bahwa pasien dengan gagal jantung secara agresif diskrining untuk osteoporosis dan patah tulang. Sekitar 45.000 orang dewasa diuji kepadatan mineral tulang (bone mineral density) selama 10 tahun. “Studi kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa gagal jantung dan penipisan tulang berjalan seiring,” kata pemimpin penelitian Dr. Sumit Majumdar dari University of Alberta di Edmonton, Kanada Gagal jantung dikaitkan dengan peningkatan resiko patah tulang sebanyak 30 persen terlepas dari faktor risiko tradisional dan kepadatan tulang. Temuan ini relevan untuk orang Asia, terutama untuk populasi Cina dan Jepang di mana tingkat osteoporosis dan patah tulang lebih tinggi daripada yang terlihat pada kelompok etnis lain. Osteoporosis dan gagal jantung adalah kondisi kronis yang umum dan mahal, yang memiliki faktor penyebab umum seperti usia tua, paska-menopause dan diabetes. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa gagal jantung meningkatkan resiko untuk patah tulang tidak hanya karena meningkatkan kejadian jatuh, tapi karena gagal jantung itu sendiri dan pengobatan medisnya dapat menyebabkan berkurangnya massa tulang. Skrining untuk osteoporosis itu sendiri sebaiknya dengan cara melihat rontgen dada. “Pasien gagal jantung sering diperiksa dengan mengugnakan sinar-X dan mereka yang menunjukkan patah tulang tulang belakang yang secara otomatis akan memberikan indikasi osteoporosis parah dan perlu untuk pengobatan.” Sumber: Medical...
Social Media Addiction : Adiksi, kecanduan Social Media

Social Media Addiction : Adiksi, kecanduan Social Media

Facebook, Twitter, Google+, Path, Instagram, Pinterest, Foursquare, Tumblr, Flickr, LinkedIn, YouTube, bahkan forum Kaskus. Jika anda pernah menggunakan internet, siapa yang tidak kenal nama-nama tersebut? Siapa yang mempunyai akun di semua media sosial tersebut? Pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang mengecek semua akun tersebut setiap hari? Mungkin anda kecanduan media sosial. Mungkin, saya juga salah satu pecandunya. Media sosial semakin marak dan merajalela di kehidupan kita. Mulai dari forum-forum, Facebook, hingga kini telah tumbuh berbagai sosial media baru dengan konsep yang berbeda-beda dan terus berkembang. Setiap orang berlomba-lomba menciptakan konsep media sosial, bahkan media sosial yang telah ada terus mengembangkan fiturnya untuk meningkatkan jumlah penggunanya. Mulai dari menjadi suatu sarana menghubungkan orang-orang yang jaraknya berjauhan atau teman-teman lama, kini sampai menjadi suatu kebutuhan hidup untuk bergaul hingga promosi jual beli. Apakah anda salah satu pecandu Social Media? Ayo, cari jawabannya di sini Bagaimanakah tanda-tanda seseorang kecanduan media sosial? Harry Wallop, dari The Telegraph menyebutkan gejalanya sebagai berikut: Saat makanan di restoran dihidangkan, hal pertama yang anda lakukan adalah mengambil ponsel, memfotonya, dan memasukkannya di Instagram, atau Twitter. Hal pertama yang anda lakukan saat bangun tidur adalah mengambil ponsel anda (bahkan ponsel anda ditaruh disamping tempat tidur anda, atau bahkan dibawah bantal!) dan mengecek komentar, retweet, atau like. Anda menyempatkan diri meng-update status Facebook, atau men-tweet kegiatan anda saat di tengah-tengah momen penting bersama keluarga. Anda menyapa teman anda di suatu pesta melalui Twitter mention. Anda mengecek media sosial terlebih dahulu sebelum pergi ke toilet, atau bahkan, anda men-posting foto diri anda saat sedang di… toilet. Di saat seseorang bertanya “bagaimana harimu?” atau “bagaimana liburan kamu?”, jawaban anda adalah “kamu gak...
Video Game Addiction

Video Game Addiction

Disclaimer: artikel ini juga saya dedikasikan untuk teman baik saya, yang saya ketahui mengidap video game addiction ini. Apakah anda mengenali kebanyakan dari karakter di atas? Jika iya, mungkin dunia anda sudah didominasi oleh perusahaan seperti Nintendo, Sony, atau Microsoft. Ya, yang saya maksud disini adalah video game, atau permainan video. Berpengetahuan luas mungkin baik, tapi jika anda bermain bersama karakter-karakter di atas untuk waktu yang berlebihan, mungkin anda sudah termasuk salah satu pencandu berat video game. Adiksi, candu, atau ketagihan dapat dialami oleh siapa saja dan terhadap siapa saja. Seseorang dapat dikatakan mengalami adiksi apabila: membutuhkan hal tersebut lebih dan lebih lagi untuk membuat ia tetap berfungsi, dan jika ia tidak dapat memenuhi hal tersebut, orang tersebut menjadi merasa mudah emosi dan berantakan. Adiksi dapat disebabkan oleh faktor psikologis maupun kimiawi otak. Faktor kimiawi otak ini adalah zat yang bernama dopamine, yang dimana ditemukan meningkat pada orang-orang yang mengalami adiksi, terutama pada adiksi berjudi. Kecanduan permainan video adalah penggunaan berlebihan atau berkeharusan terhadap permainan video atau komputer. Kecanduan permainan video masih belum dilakukan banyak riset, sehingga masih belum tergolong sebagai diagnosis kelainan psikiatri/jiwa. Adiksi terhadap permainan video, atau video game, mungkin nampaknya tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan adiksi berjudi atau adiksi obat-obatan terlarang. Akan tetapi, anak yang bermain 4-5 jam sehari tidak akan mempunyai kehidupan sosial yang normal, mengerjakan PR, atau bermain olahraga. Dengan demikian, anak tersebut akan mengalami hambatan pada perkembangan kepintaran emosionalnya. Misalnya disaat umur 21 tahun nanti, pemuda tersebut bisa memiliki kepintaran emosional seusia 12 tahun. Ditambah lagi, masalah hubungan atau pekerjaan dapat dengan mudah muncul pada pecandu yang lebih dewasa. Apa saja gejala...
Body Dysmorphic Disorders ( BDD )

Body Dysmorphic Disorders ( BDD )

Definisi Body Dysmorphic Disorder (BDD), atau kelainan dismorfik tubuh, sebelumnya dikenal sebgai dismofofobia. BDD adalah kelainan jiwa (psikiatri) dimana seseorang merasa dirinya jelek sesuai dengan bayangannya sendiri. Pada kasus lain, bisa juga seseorang tersebut memang mempunyai kelainan bentuk tubuh yang kecil atau ringan, namun orang tersebut membesar-besarkannya secara berlebihan Gejala dan Tanda Adanya pemikiran: “tidak menarik”, “jelek”, “hancur”, “tidak menyukai sebagian, sampai keseluruhan tubuh”. Pemikiran ini akan terus tertanam pada pikirannya hingga menjadi preokupasi, atau menjadi khawatir berlebihan. Keluhan yang paling sering terjadi berkaitan dengan wajah (baik benar-benar ada atau hanya imajinasi saja). Misalnya wajah tidak simetris, tidak proporsional, kebotakan, jerawat, kulit berkerut, pembuluh darah yang terlalu nampak, jaringan parut, kulit tidak mulus, merah, atau malah pucat. Bagian tubuh yang paling sering dikeluhkan adalah kulit, rambut, atau hidung. Preokupasi ini membuat sang penderitanya menjadi banyak menghabiskan waktunya pada kegiatan seperti menatap cermin, atau membandingkan berulang-ulang dengan hal lain yang serupa.  Biasanya penderita BDD bahkan akan menjalani perawatan kulit atau operasi plastik berulang-ulang dan tidak berguna. Preokupasi ini dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu, dan dapat menjelaskan kenapa setelah dilakukan perawatan atau operasi plastik, fokus preokupasi akan berpindah ke area tubuh yang lainnya. Penelitian menemukan bahwa sekitar 5-15% pasien di klinik bedah plastic mengidap BDD. Sayangnya, menurut penelitian di Inggris, kebanyakan gejala BDD justru semakin bertambah berat setelah orang tersebut menjalani perawatan atau operasi plastik. Mereka akan semakin kecewa dengan hasil operasi tersebut. Tingkat kekecewaan ini diamati terutama pada operasi hidung dan payudara. Tidak jarang juga, para pengidap BDD ini menjadi agresif karena kekecewaan mereka terhadap penampilan mereka. Jika parah, penderita BDD ini bahkan dapat merasa bersalah atau marah terhadap...
Perempuan dan Penyakit Jantung

Perempuan dan Penyakit Jantung

Kejadian penyakit jantung pada masyarakat Indonesia selama sepuluh tahun ini mengalami peningkatan yang bermakna. Telah lama kita mempercayai bahwa kaum lelaki memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengidap penyakit jantung ini. Namun benarkah demikian apa adanya? Survey penyakit di dunia ternyata menunjukkan bahwa kaum wanita cukup terancam dengan penyakit jantung ini. Di Australia, penyakit jantung adalah pembunuh wanita nomor 1. Bahkan di Indonesia sendiri, pengidap hipertensi lebih banyak pada pasien wanita. Setelah usia 65 tahun, atau setelah menopause, wanita menjadi lebih rentan untuk menderita hipertensi. Pada tahun 2012, satu diantara tiga wanita usia 30-65 tahun pernah dinyatakan oleh dokter mereka memiliki tekanan darah tinggi. Namun hanya satu dari sepuluh wanita yang memiliki tekanan darah tinggi tersebut mengetahui bahwa mereka mempunyai resiko penyakit jantung. Sayangnya lagi, sekitar dua pertiga dari wanita yang memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi berkata bahwa keadaan kesehatan mereka adalah baik. Bayangkan! Faktor resiko penyakit jantung yang dimiliki sebetulnya serupa dengan lelaki. Hanya saja, wanita mempunyai faktor resiko seperti penggunaan kontrasepsi oral, dan kondisi lain seperti kehamilan dan menopause. Pre-eklampsia, atau hipertensi pada kehamilan, cukup banyak memakan nyawa ibu hamil. Terapi hormon tertentu seperti untuk kontrasepsi atau penatalaksanaan menopause, cukup kontroversial karena dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. Cara pencegahannya sebetulnya sama: tidak merokok, makan sehat, rajin berolahraga, jaga berat badan, jaga tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, serta mengurangi stress atau depresi. Untuk wanita hamil, disarankan untuk rajin memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan. Disamping untuk mengetahui kondisi sang buah hati, pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kondisi kesehatan dari sang ibu sendiri. Hipertensi pada kehamilan yang tidak terkontrol dapat membahayakan ginjal sang ibu, dan tentunya organ...
Halaman 2 dari 2312345Next101520Next»»