Penyakit Kulit pada Lansia

Penyakit Kulit pada Lansia

Saat ini jumlah dan proporsi usia lanjut semakin meningkat baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan pada tahun 2030, 31% populasi penduduk Amerika akan berusia 55 tahun bahkan lebih.1 Seiring bertambahnya usia, kulit pada usia lanjut mengalami banyak perubahan karena pengaruh intrinsik maupun ekstrinsik, sehingga kemungkinan munculnya kelainan yang berhubungan dengan kulit semakin meningkat. Manifestasi klinis penyakit kulit dapat berbeda dari gambaran klasik pada populasi dengan usia lebih muda.2

Penuaan merupakan suatu proses penurunan progresif fungsi dan kapasitas maksimal seluruh organ tubuh, termasuk kulit.1 Terdapat dua tipe penuaan kulit yang berkontribusi terhadap kelainan kulit pada usia lanjut. Penuaan intrinsik ditentukan/dikendalikan secara genetik, perubahan struktur kulit terjadi karena proses alami pertambahan usia, hal ini tak terhindarkan dan terjadi pada semua individu. Penuaan ekstrinsik disebabkan oleh faktor-faktor ekstrinsik (paparan sinar ultraviolet, merokok, dan polutan lingkungan lainnya).2

Beberapa kelainan kulit yang sering ditemukan pada usia lanjut:

  1. Xerosis kutis

Xerosis atau kulit kering sering ditemukan pada usia lanjut, insidens dan keparahannya meningkat seiring bertambahnya usia. Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui. Xerosis pada usia lanjut bersifat multifaktorial, meliputi faktor genetik, perubahan proses keratinisasi dan kandungan lipid pada kulit yang menua serta pengaruh lingkungan (cuaca dingin dan kering, pemakaian bahan-bahan bersifat iritan, penggunaan pemanas atau pendingin ruangan secara berlebihan), penyakit tertentu (gagal ginjal kronik, hipotiroid, HIV, keganasan, defisiensi nutrisi terutama zinc dan asam lemak esensial), terapi atau obat-obat tertentu (radiasi, diuretik, isotretinoin) semua ini dapat meningkatkan kerentanan terjadinya xerosis pada kulit yang menua.3,4

Pada kulit yang menua, perubahan terjadi pada epidermis maupun dermis. Perubahan terpenting pada epidermis terjadi pada stratum korneum, yaitu jumlah lipid interselular stratum korneum berkurang, turnover sel lebih lambat, produksi Natural Moisturizing Factor yang terdapat pada keratinosit menurun. Pada dermis terjadi penurunan jumlah dan fungsi kelenjar sebasea dan kelenjar keringat, penurunan jumlah pembuluh darah, serta penurunan pergerakan air dari dermis ke epidermis.4

Gejala umumnya berupa rasa gatal, terbakar, tersengat, dan sensasi seperti tertarik. Xerosis merupakan penyebab tersering pruritus generalisata pada usia lanjut. Kulit tampak kering, kasar, retak, dengan fisura dan skuama, tampilannya seperti pola porselen yang retak. Xerosis paling sering tampak pada ekstremitas, tapi dapat pula terlihat pada badan dan wajah.2,4

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tatalaksana kulit kering pada usia lanjut:

  1. menggunakan humidifier, kelembaban relatif diatur pada 45-60%
  2. mengatur suhu ruangan serendah mungkin senyaman yang dapat ditoleransi pasien
  3. mandi dengan air hangat selama 10 menit setiap harinya untuk menghidrasi kulit
  4. tidak direkomendasikan menggunakan bath oil karena risiko terpeleset
  5. hindari sabun yang tidak berpelembab atau bahan-bahan lain yang bersifat mengeringkan
  6.  menggunakan moisturizer minimal 2x sehari, setelah mandi dan sebelum tidur.5

 

  1. Pruritus

Pruritus didefinisikan sebagai sensasi tidak menyenangkan pada kulit yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk.6 Sedikitnya 50% usia di atas 70 tahun mengalami pruritus berkepanjangan yang sangat mengganggu.5

Pruritus kronik berlangsung lebih dari 6 minggu, hal ini sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya bahkan dapat menyebabkan gangguan tidur hingga depresi. Penyebab pruritus pada usia lanjut bervariasi, dapat diklasifikasikan berdasarkan asal etiologinya, yaitu:

  1. Kulit (xerosis, dermatitis, infeksi)
  2. Saraf (tumor otak, post stroke)
  3. Psikatri (demensia, skizofrenia, gangguan kepribadian)
  4. Penyakit sistemik (kolestasis, gagal ginjal, diabetes mellitus, penyakit tiroid)
  5. Obat (ACEI, opioid).6

 

Terapi awal difokuskan untuk segera meringankan gejala pruritus.2 Selain dengan tatalaksana nonfarmakologi seperti pada kulit kering, tidak menggaruk, menjaga kuku tetap pendek, juga dapat diberikan terapi simtomatik topikal berupa emolien, kortikosteroid, imunomodulator, menthol, capsaicin, anestesi topikal, atau antihistamin topikal, yang dapat dikombinasi dengan terapi sistemik seperti antihistamin, antidepresan, dan neuropleptik.5,6 Selanjutnya dicari etiologi penyebab pruritus sehingga dapat dipilih pengobatan yang sesuai agar efektivitas pengobatan optimal.2

 

Artikel Terkait


Gatal-gatal di kaki

Lucky Aninditha

Gangguan Kesehatan Kulit yang Sering Kambuh? Jangan-jangan .. Dermatitis Atopik!

Cindy Lestari

Atasi Serangan Serangga Tomcat?

Andreas Erick Haurissa

Memilih Kosmetik yang Sesuai dengan Jenis Kulit Anda

Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc