Pertolongan Pertama Pada Anak Epilepsi atau Ayan

Pertolongan Pertama Pada Anak Epilepsi atau Ayan

Tak jarang banyak orangtua yang frustasi begitu mengetahui anak mereka mengidap epilepsi atau  penyakit yang lazim disebut ayan. Dalam kehidupan sehari-hari, epilepsi merupakan stigma bagi masyarakat. Mereka cenderung untuk menjauhi penderita epilepsi. Bagi orang awam, epilepsi dianggap sebagai penyakit menular (melalui buih yang keluar dari mulut), penyakit keturunan, menakutkan dan memalukan.

Data menunjukkan jumlah penderita epilepsi di Indonesia berada dalam kisaran 1-4 juta jiwa. Berdasarkan data yang didapatkan oleh bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, terdapat sekitar 175-200 pasien baru per tahunnya, dan yang terbanyak berada dalam kelompok usia 5-12 tahun. Penelitian di RSU dr. Soetomo Surabaya selama satu bulan menemukan 86 kasus epilepsi pada anak. Penderita terbanyak berada dalam kelompok usia 1-6 tahun (46,5%), kemudian 6-10 tahun (29,1%), 10-18 tahun (16,28%) dan 0-1 tahun (8,14%).

Ayan atau epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (kejang) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara tak teratur (intermiten). Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf yang bertugas mengkoordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan, berpikir serta pergerakan otot. Semua sel otak saling bekerja sama dan berkomunikasi melalui sinyal listrik. Terkadang sinyal tersebut tidak beraktivitas sebagaimana mestinya sehingga menimbulkan cetusan listrik yang berlebihan dan tidak teratur sehingga menimbulkan serangan atau seizure.

Secara umum, faktor resiko terjadinya epilepsi  dibagi menjadi tiga yaitu resiko prenatal (selama masa kehamilan), perinatal (selama proses persalinan) dan postnatal (setelah anak lahir). Wanita hamil berusia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun mempunyai resiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan epilepsi. Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilkukan oleh Raharjo T. di Semarang, wanita hamil dengan riwayat eklampsia dan hipertensi juga memiliki resiko lebih tinggi melahirkan anak dengan sakit ayan. Proses persalinan yang mengalami gangguan dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen (asfiksia) serta riwayat trauma pada bayi berpotensi menyebabkan epilepsi.

Terkadang sebelum terjadi serangan epilepsi, anak dapat merasakan aura, sebuah sensasi yang dirasakan setiap sebelum terjadinya kejang. Aura dapat berupa rasa geli di tangan atau/dan kaki, kram, melihat garis merah, melihat benda metalik, rasa geli di kepala, kepala nyut-nyutan, mata kedutan, merasa ketakutan, seperti ada angin berhembus di telinga, mendengar suara-suara, kepala terasa ringan, mencium bau yang kuat (bermacam-macam bau dari bau bunga hingga bau busuk) dan masih banyak yang lainnya. Aura tidak dirasakan oleh semua anak yang mengalami epilepsi dan aura dapat berbeda untuk setiap anak. Penderita yang merasakan aura sebelum kejang dapat memberitahu kepada orang disekitarnya bahwa dirinya akan mengalami kejang.

Sekitar 400.000 anak di AS mengidap epilepsi, dan mereka dapat mengendalikan serangan mendadak itu serta mampu hidup normal. Lalu bagaimana jika anak kena serangan mendadak? Biasanya serangan ini berlangsung amat cepat, dan tidak banyak waktu yang tersedia untuk berbuat sesuatu. Peristiwa kejang-kejang, dengan mulut mengeluarkan busa, seringkali menjadi keadaan yang mencekam bahkan menakutkan. Hal yang harus dilakukan ketika serangan datang adalah :

  • Tetap tenang dan tidak panik
  • Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
  • Posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
  • Observasi bentuk dan lama kejang.
  • Tetap bersama pasien selama kejang.
  • Bawa anak ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit/lebih atau anak mengalami kejang berulang. Tujuan utama terapi epilepsi adalah tercapainya kualitas hidup optimal untuk anak sesuai dengan perjalanan penyakit epilepsi dan disabilitas fisik maupun mental yang dimilikinya. Untuk tercapainya tujuan tadi diperlukan beberapa upaya, antara lain menghentikan bangkitan, dan mengurangi frekuensi bangkitan tanpa efek samping atau dengan efek samping yang minimal.

 

Daftar Pustaka :

  1. Raharjo, T. B. (2007). Faktor-Faktor Risiko Epilepsi pada Anak di Bawah Usia 6 Tahun. Neurologi. Semarang, Universitas Diponegoro. S2: 44-57.
  2. Kustiowati, E., S. Gunadharma, et al. (2008). “Pedoman Tatalaksana Epilepsi.” PERDOSSI: 3-12.
  3. Robert S. Fisher, Walter van Emde Boas, et al. (2005). “Epileptic Seizures and Epilepsy: Definitions Proposed by the International League Against Epilepsy (ILAE) and the International Bureau for Epilepsy (IBE).” EPILEPSIA 46: 470-472.
  4. Johnston, M. V., Ed. (2007). Seizures in Childhood. Textbook of Pediatrics.

Artikel Terkait


Penyakit ayan

Dewata Aprilia Marilyn, dr.

Penderita epilepsi tidak boleh kelelahan ?

(Almh.) Angela Dewi, dr., Sp.S

Efek samping obat epilepsi

Tommy Supit, dr.

Efek samping Depakene

Lucky Aninditha, dr.