Pneumonia: Pembunuh Utama Balita di Dunia

Pneumonia: Pembunuh Utama Balita di Dunia

Pneumonia pada anak, terutama pada balita adalah salah satu penyebab kematian balita tertinggi di dunia. Penyakit ini merupakan pembunuh utama balita di dunia. Berdasarkan ata WHO (Wolrd Health Organization), sebanyak 15% balita yang terinfeksi pneumonia meninggal dunia. Pneumonia atau radang paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman atau bakteri di paru-paru. Ibu perlu mewaspadai gejala yang timbul akibat infeksi ini. Batuk, susah bernafas dan demam adalah tiga ciri gejala pneumonia pada anak. Pneumonia terjadi akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenza type B (Hib).  Sebanyak 50% penyebab pneumonia adalah jenis bakteri tersebut. Pencegahan infeksi ini adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi dapat dilakukan pada anak sejak usia 2 bulan. Segera lakukan vaksinasi PCV dan Hib untuk mencegah kematian akibat pneumonia pada...
Jadwal Imunisasi Anak 2015

Jadwal Imunisasi Anak 2015

Cek Jadwal Imunisasi Anak Sudahkah buah hati Sobat mendapatkan imunisasi? Imunisasi pada anak penting dilakukan untuk mencegah penyakit dan komplikasinya. Imunisasi dasar yang wajib diberikan pada anak adalah BCG untuk mencegah penyakit TBC, Polio, DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus, Hepatitis B dan campak. Selain itu imunisasi pada anak yang dapat diberikan, antara lain Hib, PCV, Rotavirus dan MMR. Cek kelengkapan imunisasi anak sesuai jadwal. Rayakan Minggu Imunisasi Sedunia 2015 dengan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Klik gambar jadwal imunisasi anak di bawah ini untuk men-download dan menggunakannya sebagai acuan Sobat melakukan imunisasi anak....
Data dan Fakta Obesitas pada Anak

Data dan Fakta Obesitas pada Anak

Obesitas pada anak belum lama menjadi sorotan permasalahan gizi pada anak.  Hal ini disebabkan karena komplikasi obesitas pada anak yang dapat ditimbulkan lebih kompleks dibandingkan dengan obesitas pada orang dewasa, mengingat anak yang masih terus tumbuh dan berkembang, serta menjadi hal penting karena anak merupakan generasi penerus. Di Indonesia terutama di kota besar prevalensi obesitas pada anak dari tahun ke tahun semakin bertambah. Secara umum, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas pada balita baik di  pedesaan maupun perkotaan.1,2 Selain itu, berikut data dari sekian banyak studi yang menyebutkan meningkatanya angka obesitas pada anak:   Riskesdas pada tahun 2010, 17.9% masyarakat di Indonesia berstatus penderita gizi kurang dan gizi buruk (menurun dari 31.0% tahun 1990) namun di saat yang sama, 14 % balita di Indonesia berstatus obesitas/gizi lebih (meningkat dari tahun 2007 sebesar 12,2 %).3 Data yang dipublikasikan pada tahun 2012 awal oleh SEANUTS ( South East Asian Nutrition Surveys) yang dilakukan di 4 negara; Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam menyatakan gizi buruk masih merupakan masalah utama di Indonesia namun obestias adalah masalah yang juga mulai muncul di negara ini.3 Data WHO, kasus obesitas di seluruh dunia bertambah lebih dari dua kali lipat sejak 1980. Pada tahun 2008, lebih dari 200 juta orang laki-laki dan hampir 300 juta perempuan mengalami obesitas, serta hampir 43 juta anak dibawah usia 5 tahun kelebihan berat badan pada tahun 2010.4 Sebuah survei nasional di Spanyol menyingkapkan bahwa 1 dari setiap 3 anak kelebihan berat badan atau obesitas. 5 Studi di Australia menyebutkan hanya dalam waktu sepuluh tahun (1985-1995), obesitas pada anak naik tiga kali lipat di Australia.5 Para peneliti dari...
Aktivitas Fisik bagi Anak dan Remaja, Cegah Obesitas

Aktivitas Fisik bagi Anak dan Remaja, Cegah Obesitas

Indonesia saat ini tengah mengalami perbaikan dan pertumbuhan ekonomi dibandingkan 20 tahun yang lalu, tentu saja keadaan ini diiringi dengan pendapatan perkapita masyarakat yang meningkat. Kita boleh berbangga bila pada tahun 1990, gizi kurang dan buruk merupakan masalah utama yang dihadapi balita di Indonesia, pada tahun 2010 angkanya telah menurun dari 31.0% menjadi 17.9%. Namun ternyata muncul masalah baru yang menghantui kehidupan balita dan anak bahkan orang dewasa di Indonesia. Masalah ini adalah OBESITAS. 80% dari remaja dengan obesitas akan meneruskan kecenderungan obesitas di masa dewasa1. Persentase obesitas pada balita pada tahun 2010 sebesar 14%, meningkat dari 12.2% pada tahun 2007. Dan ternyata, kondisi yang sama juga dialami pada beberapa negara  ASEAN2. Beberapa obat yang digunakan untuk menangani kondisi medis tertentu pada seorang anak (contohnya : Sindrom Down) memang disinyalir dapat menyebabkan obesitas, namun hanya mewakili  1-2% kasus. Sementara 25-85% kasus anak dan remaja dengan obesitas berasal dari keluarga yang juga mengalami obesitas3. Tentunya hal ini tidak semata-mata disebabkan genetik namun juga dipengaruhi faktor sosial dan ekonomi dari keluarga tersebut.  Kondisi ekonomi yang kini mengharuskan kedua orang tua untuk bekerja berdampak terhadap status nutrisi suatu keluarga misalnya mengakibatkan berkurangnya waktu dan rentang pemberian ASI, kacaunya susunan piramida makanan dimana anak-anak kurang mengkonsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat serta konsumsi makanan cepat saji, soda dan makanan lainnya yang banyak mengandung glukosa. Selain itu dengan berkembangnya teknologi, ketiadaan pendampingan orang tua di rumah dan relasi dengan lingkungan yang cenderung menurun menyebabkan seorang anak saat ini lebih senang duduk berjam-jam di dalam kamar untuk bermain komputer atau menonton televisi daripada bermain di luar yang biasanya berupa aktivitas fisik yang menguras tenaga....
Fakta Terbaru Obesitas dan Berat Badan Berlebih pada Anak

Fakta Terbaru Obesitas dan Berat Badan Berlebih pada Anak

Dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Juni yang lalu, TanyaDok mengulas artikel spesial mengenai kesehatan anak dengan menyoroti kasus obesitas pada anak. Badan Kesehatan Dunia atau WHO, pada bulan Mei 2014 membentuk semua komisi untuk memberikan panduan dan nasihat terhadap penatalaksanaan krisis obesitas pada masa kanak-kanak. Komisi yang terbentuk ini bertujuan untuk menghentikan obesitas pada anak-anak. Banyak anak usia di bawah dari 5 tahun di berbagai negara yang mengalami obesitas. Oleh karena itu, WHO merasa perlu untuk membentuk komisi ini karena dengan mencegah obesitas pada anak-anak, selain anak bisa semakin sehat, akan juga berdampak pada penurunan angka kejadian penyakit jantung, diabetes dan penyakit-penyakit metabolik kronis lainnya yang bisa terjadi di masa dewasanya.  Epidemiologi Jumlah penderita obesitas sudah bertambah dua kali lipat sejak 1980. Pada tahun 2008, lebih dari 1.4 miliar remaja berumur 20 tahun atau lebih sudah menderita berat badan berlebih (overweight), 200 jutanya adalah laki-laki dan hampir 300 jutanya adalah perempuan menderita obesitas. 35% remaja berusia 20 tahun keatas menderita overweight dan 11% menderita obesitas. Lebih dari 40 juta anak di bawah usia 5 tahun juga menderita obesitas ataupun overweight. Walaupun begitu obesitas bisa dicegah. Apa Itu Obesitas dan Overweight? Overweight dan obesitas adalah akumulasi lemak yang abnormal atau berlebih yang dapat merusak kesehatan. Indeks massa tubuh (IMT) adalah indeks sederhana antara tinggi badan dan berat badan yang biasa digunakan untuk mengklasifikasi overweight dan obesitas pada remaja. IMT menggunakan berat badan seseorang dalam kilogram yang dibagi dengan tinggi kuadrat dalam meter, sehingga satuannya adalah kg/m2. Menurut WHO : overweight adalah jika IMT ≥ 25, sedangkan overweight adalah jika IMT  ≥ 30. Fakta Obesitas dan...
Mengapa Imunisasi Harus Sesuai Jadwal?

Mengapa Imunisasi Harus Sesuai Jadwal?

Semua orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Bila Anda mampu melindungi anak dari segala bahaya, akankah Anda melakukannya? Pasti. Termasuk juga, melindungi anak dari penyakit yang berpotensi berat dan mengancam jiwa. Bila seorang anak mendapat imunisasi, maka 80-95% akan terhindar dari penyakit infeksi yang ganas. Semakin banyak bayi dan anak yang terimunisasi, maka penyebaran penyakit pun akan semakin sedikit dan rantai penularan terputus dari anak ke anak lain atau ke orang dewasa yang tinggal bersamanya. Ini memberikan keuntungan sosial, karena 5-20% anak yang tidak diimunisasi juga akan terlindungi (disebut herd immunity atau kekebalan komunitas). Dengan melakukan imunisasi, kita melindungi anak, orang-orang tercinta, dan masyarakat sekitar kita dari penyebaran berbagai penyakit. Imunisasi akan menurunkan tingkat penyakit berat, yang selanjutnya akan menurunkan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit, mencegah kematian dan kecacatan yang dapat menjadi beban masyarakat seumur hidup. Sobat DokterAnda tentu sering melihat jadwal imunisasi Rekomendasi IDAI, terutama bagi yang memiliki anak kecil. Pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati, kenapa harus sesuai jadwal ini? Kenapa ada yang diberikan hanya satu kali, sedangkan yang lain ada yang harus dua, tiga, bahkan enam kali? Kadang dokter anak mengatakan, “Imunisasi yang berikutnya ini jangan terlambat ya…” Imunisasi dilakukan dengan maksud menimbulkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Kekebalan tubuh sebenarnya paling baik diperoleh dari infeksi alami (sakit), namun imunisasi memungkinkan membentuk kekebalan yang mirip dengan infeksi sesungguhnya tanpa harus melewati penderitaan dan bahaya komplikasi akibat sakit tersebut. Respons kekebalan tubuh terhadap imunisasi sangat lemah jika dibandingkan dengan respons terhadap infeksi alamiah, sehingga diperlukan vaksinasi penguat (booster). Banyaknya vaksinasi penguat berbeda-beda pada setiap jenis imunisasi, untuk dapat mencapai tingkat kekebalan yang diharapkan. Dengan...
Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI 2014

Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI 2014

Badan Kesehatan Dunia atau WHO, mencanangkan tanggal 24 April – 30 April sebagai minggu imunisasi sedunia. Pada tahun 2014 ini, WHO kembali menyerukan pentingnya imunisasi dengan slogan Ketahui, Cek dan Lindungi (Know, Check and Protect). Pada dokumen sosialisasi minggu imunisasi sedunia tahun ini, WHO mengatakan bahwa, “Imunisasi sudah berhasil mencegah 2-3 juta kematian setiap tahunnya. Dan hingga saat ini ada total 25 penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi baik pada anak maupun dewasa.” Anak-anak sebagai kelompok yang rentan terhadap penyakit menjadi salah satu sasaran utama pencapaian imunisasi. Melalui imunisasi anak-anak bisa terlindungi dari penyakit-penyakit fatal seperti difteri, measles, pertusis, pneumonia (penyebab 5000 kematian anak Indonesia tahun 2013), polio, diare (penyebab ke-2 kematian anak Indonesia tahun 2013), rubella dan tetanus. Oleh karena itu Ikatan Dokter Anak Indonesia mengeluarkan jadwal imunisasi anak sesuai rekomendasi IDAI yang terbaru untuk tahun 2014. Pembaharuan dari jadwal ini adalah adanya penambahan vaksin influenza sebagai salah satu imunisasi yang direkomendasikan kepada anak-anak. Vaksin influenza ini menjadi penting karena selain anak-anak merupakan kelompok rentan terhadap penyakit, juga karena vaksin influenza ini akan memberikan perlindungan terhadap galur atau strain virus influenza yang sedang merebak. Vaksin flu yang beredar di Indonesia saat ini adalah vaksin trivalent yang memberikan perlindungan terhadap 3 jenis strain virus influenza, yaitu influenza subtipe A H1N1 (virus flu pada wabah flu babi di tahun 2009), influenza subtipe A H3N2 (virus flu yang mewabah di Hongkong tahun 1968)  dan influenza subtipe B. Vaksin flu ini akan memberikan perlindungan selama 1 tahun. Pada tahun berikutnya harus disuntik ulang karena strain virus kemungkinan sudah berbeda karena virus influenza yang sangat cepat bermutasi. Selain vaksin flu, jadwal IDAI terbaru untuk imunisasi anak juga mencakup imunisasi-imunisasi anak dasar lainnya, seperti jadwal...
Deteksi Dini Kanker Mata Pada Anak

Deteksi Dini Kanker Mata Pada Anak

Pada suatu seminar awam, seorang ibu bertanya, Kalau pada dewasa kita kenal ada SADARI (Periksa Payudara Sendiri) untuk deteksi dini kanker payudara dan Pap Smear untuk deteksi dini kanker leher rahim, adakah yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini kanker pada anak? Terus terang kita harus mengakui bahwa hingga saat ini, dari sekian banyak kanker yang dapat dijumpai pada anak, baru satu jenis kanker pada anak yang dapat dideteksi secara dini, yaitu kanker bola mata atau dikenal dengan istilah retinoblastoma. Deteksi dini merupakan suatu upaya untuk dapat menemukan kanker pada stadium awal, karena kita ketahui bersama bahwa jika kanker ditemukan pada stadium awal maka kemungkinan untuk sembuhnya lebih besar dibanding jika ditemukan pada stadium lanjut. Makanya, dalam hubungannya dengan kanker anak, penting bagi orangtua untuk mengetahui dan mewaspadai gejala kanker pada anak mengingat baru hanya ada satu jenis kanker pada anak yang dapat dideteksi dini. Deteksi dini untuk retinoblastoma dinamakan Lihat Merah. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan opthalmoscope. Pemeriksaan ini bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah dilatih sebelumnya, tidak harus oleh seorang dokter yang bertugas di rumah sakit besar. Di puskesmas pun, pemeriksaan ini dapat dilakukan. Pemeriksaan ini menggunakan alat yang dinamakan ophthalmoscope, suatu alat untuk melihat bagian dalam dari mata anak yang diperiksa. Retinoblastoma terjadi pada anak usia balita, sehingga dalam proses pemeriksaannya, anak bersangkutan biasanya diminta untuk duduk di pangkuan ibunya sementara pemeriksa berada tidak jauh dari hadapan mereka. Bila mata anak dalam kondisi normal, maka pemeriksa melalui alat ophthalmoscope akan melihat warna merah terpantul dari mata anak yang diperiksa. Pemeriksa akan menganjurkan orangtua membawa anaknya ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap bila melalui...
Valentine, Perselingkuhan, Seks, dan Keretakan Perkawinan

Valentine, Perselingkuhan, Seks, dan Keretakan Perkawinan

Perubahan nilai yang begitu cepat dalam kehidupan kita saat ini karena kemajuan teknologi informasi dan media mengakibatkan kita bingung dalam menyikapi nilai-nilai perkawinan saat ini. Di saat perayaan hari kasih sayang yang lebih dikenal sebagai “Valentine’s Day” oleh kaum muda, perlu juga sekiranya kita merefleksikan kembali arti kasih sayang ini dengan nilai-nilai dan makna perkawinan sebagai komitmen untuk saling mencintai.   Refleksi ini menjadi penting ketika saat ini kita melihat di sekitar kita terjadi peningkatan perceraian, perselingkuhan yang diawali dengan teman tapi mesra (TTM) dan maraknya praktek-praktek seks di luar perkawinan. Semua “kekacauan” ini berdampak negatif pada generasi muda, yang katanya penerus bangsa, karena membuat banyak anak-anak hasil produksi “broken home”. Hancur sudah dasar-dasar pola asuh dalam masa perkembangan sang anak sebagai pondasi nilai-nilai kehidupannya kelak di masa dewasa. Tulisan ini adalah hasil pengamatan yang diambil dari pengalaman penulis dalam berpraktek sebagai psikiater keluarga dan perkembangan anak. Masalah Komunikasi dan Gangguan Jiwa Banyak masalah perkawinan dikaitkan dengan masalah komunikasi yang buruk antara suami dan istri sehingga akhirnya mereka merasa tidak ada lagi kecocokan satu sama lain. Pertanyaannya adalah mengapa komunikasi yang begitu baik pada awal mula pacaran sampai ke pernikahan sekarang menjadi buruk? Memang ketika jatuh cinta (kejadian yang tidak dapat dikendalikan oleh kita) segalanya menjadi indah dan komunikasi macam apa pun akan selalu “lancar” tetapi ketika sama-sama berkomitmen untuk tetap saling mencintai (kejadian ini harusnya dapat dikendalikan secara sadar oleh kita karena mencintai adalah pilihan) seharusnya sudah dapat mendeteksi masalah “plus dan minus” dari komunikasi tersebut! Menikah adalah komitmen untuk memilih saling mencintai “partner” kita untuk mencapai “goal” bersama di hari tua. Mengapa komunikasi ini menjadi buntu? Bertolak...
Kenali Gejala Leukemia Pada Anak

Kenali Gejala Leukemia Pada Anak

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui bahwa secara umum kanker dibagi atas dua kelompok besar. Guna memudahkan dalam mengingatnya, kanker itu ada yang cair dan padat. Bentuk cair di dalam tubuh manusia adalah darah, sehingga kelompok yang pertama disebut sebagai kanker darah atau dikenal juga secara luas dengan sebutan leukemia. Bentuk yang padat biasanya dapat terlihat sebagai benjolan yang dapat terjadi pada semua organ di dalam tubuh manusia, seperti di otak, mata, hati, ginjal, dan lain sebagainya. Pada kesempatan ini akan dibahas terlebih dahulu tentang leukemia pada anak. Leukemia merupakan jenis kanker yang paling banyak dijumpai pada anak-anak. “Tempat Kejadian Perkara” dari leukemia itu ada di sumsum tulang. Jika ditanya sumsum tulang itu dimana, bayangkan saja ketika kita sedang makan paha ayam. Setelah daging ayamnya habis, kita potes tulangnya dan kita hisap-hisap bagian tengan dari tulang tersebut. Bagian yang kita hisap itulah yang dinamakan sumsum tulang. Sumsum tulang merupakan pabrik dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Melihat ini, kita mungkin dapat identikkan sumsum tulang dengan suatu kawasan industri di Tangerang misalnya. Permasalahan mulai timbul saat “karyawan” di pabrik leukosit berdemonstrasi secara anarkhis. Mereka melarang pabrik berproduksi. Akibatnya kadar leukosit di dalam darah menjadi rendah. Tidak puas di pabrik sendiri, mereka ke pabrik eritrosit dan trombosit, dan melarang agar kedua pabrik ini juga tidak berproduksi. Akibatnya, kadar eritrosit dan trombosit di dalam darah juga menjadi rendah. Tidak puas hanya berdemonstrasi di kawasan industri, para karyawan tersebut keluar menyebar kemana-mana, seperti ke otak, gusi, kulit, tulang, hati, limpa, dan testis. Apa yang dapat terlihat dari seorang anak akibat kejadian di atas? Karena kadar eritrosit...
Halaman 1 dari 2112345Next101520Next»»